Jawaban Atas Persoalan Kekurangan Guru Produktif SMK

Halaman : 6
Edisi 41/Desember - 2019

Salah satu arah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah meningkatkan kualitas pendidikan vokasi serta pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia. Melalui Inpres ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy diinstruksikan untuk meningkatkan jumlah dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di SMK.

Untuk menindaklanjuti Inpres tersebut dan dalam rangka penataan dan pemenuhan guru produktif di SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) mengambil langkah strategis pada tahun 2016, yaitu dengan merancang Program Keahlian Ganda (sebelumnya program ini dikenal dengan Program Alih Fungsi Guru). Dalam Program Keahlian Ganda, seorang guru SMA/SMK bisa memiliki dua sertifikasi, yaitu Sertifikasi Pendidik dan Sertifikasi Keahlian. Guru SMA/SMK yang telah memiliki sertifikasi keahlian dari Program Keahlian Ganda ini, diharapkan dapat memenuhi kekurangan guru produktif di SMK.

Berdasarkan data terakhir dari Ditjen GTK Kemendikbud, saat ini terdapat masalah berupa kekurangan guru SMK produktif. Untuk SMK Negeri, kekurangan guru produktif mencapai 41.861 guru, sedangkan kekurangan guru produktif di SMK Swasta sebanyak 50.000 orang, sehingga total kekurangan guru produktif di SMK mencapai 91.861 orang.

Sebagai salah satu bentuk penyelesaiannya, Kemendikbud melakukan penambahan guru produktif untuk jangka waktu pendek, yaitu antara tahun 2016 hingga 2017 untuk mencapai tambahan 15.000 guru produktif. Rekrutmen 15.000 guru produktif tersebut dilakukan melalui Program Sertifikasi Keahlian dan Sertifikasi Pendidik bagi Guru SMK/SMA (selanjutnya disebut program keahlian ganda).

Setidaknya ada dua tujuan utama diterapkannya Program Keahlian Ganda. Pertama, untuk meningkatkan kompetensi guru SMK dan SMA yang mengampu mata pelajaran adaptif (Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, IPS, dan Kewirausahaan) untuk memperoleh kompetensi keahlian tambahan dan mampu menjadi guru mata pelajaran produktif di SMK. Kedua, memenuhi kebutuhan guru produktif di SMK, khususnya untuk lima kelompok bidang prioritas, yaitu maritim/kelautan, pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, serta teknologi dan rekayasa.

Untuk mengakomodir kebutuhan guru produktif di lima kelompok bidang prioritas itu, ada 51 kompetensi keahlian yang menjadi sasaran Program Keahlian Ganda. Beberapa kompetensi keahlian tersebut antara lain Agribisnis Perikanan, Akomodasi Perhotelan, Desain dan Produksi Kriya Kayu, Desain dan Produksi Kriya Tekstil, Jasa Boga, Multimedia, Nautika Kapal Niaga, Nautika Kapal Penangkap Ikan, Seni Karawitan, Teknik Produksi dan Penyiaran Program Radio dan Pertelevisian, dan Usaha Perjalanan Wisata.

Rencananya program keahlian ganda ini akan diselenggarakan selama dua tahap dengan menyasar total 30.000 guru. Tahun 2016-2017 merupakan tahap pertama dengan 15.000 guru, dan tahun berikutnya dengan 15.000 guru. Guru yang disasar harus memiliki kriteria tertentu, di antaranya berusia 45 s.d. 55 tahun dan teridentifikasi kelebihan guru. (*)