Survei Karakter bagi Pelajar Indonesia

Halaman : 16
Edisi 60/Juni 2022

Ukur Hasil Belajar Non-Kognitif Siswa untuk Bentuk Pelajar Pancasila yang Berkarakter

Menjadi manusia Indonesia dengan karakter adalah cita-cita bangsa ini. Karena, pendidikan sejatinya bertujuan mengembangkan potensi murid secara utuh, baik kognitif maupun non-kognitif. Survei karakter dapat memberi informasi berharga tentang sikap, nilai, dan kebiasaan yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila. Profil seperti apa itu? 

Dalam Rancangan Strategis (Renstra) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang tertuang pada Peraturan Menteri Pedidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020, Kemendikbud memiliki visi yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global.

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku dengan nilai-nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila memiliki enam dimensi utama, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; 2) berkebinekaan global; 3) bergotong royong, 4) mandiri; 5) bernalar kritis; dan 6) kreatif.

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia menghayati keberadaan Tuhan dan selalu berupaya menaati perintah serta menjauhi larangan sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan yang dianutnya, keimanan dan ketakwaan ini terwujud dalam akhlaknya yang mulia. Terdapat lima elemen kunci pada Profil Pelajar Pancasila beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, yang pertama adalah akhlak beragama, serta memiliki pemahaman dalam menerapkan kehidupan beragama.

Kemudian akhlak pribadi, yaitu kesadaran dalam menjaga dan merawat diri. Selanjutnya, akhlak kepada manusia, bagaimana pelajar dalam kehidupan bermasyarakat, saling menghargai berbedaan yang ada. Elemen kunci yang keempat yaitu akhlak kepada alam, kesadaran seorang pelajar merawat lingkungan sekitarnya. Yang terakhir adalah akhlak bernegara, pemahaman dan menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik.

Pelajar Indonesia yang berkebinekaan global adalah pelajar Indonesia yang mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai. Ada tiga elemen kunci berkebinekaan global, yaitu mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi intercultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Profil Pelajar Pancasila selanjutnya yaitu gotong royong. Gotong royong sudah menjadi salah satu sifat bangsa Indonesia yang tertanam sejak dulu dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Pelajar Indonesia memiliki kemampuan gotong royong merupakan pelajar Indonesia yang memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah, dan ringan. Dengan berkolaborasi, memiliki kepedulian, dan berbagi sebagai elemen kuncinya.

Selanjutnya, mandiri. Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Pelajar yang mandiri memiliki elemen kunci kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi. Dimana pelajar mampu melakukan refleksi terhadap kondisi dirinya dan situasi, dimulai dari memahami emosi diri dan kelebihan serta keterbatasan yang dimiliki sehingga menyadari kebutuhan yang diperlukan dalam pengembangan diri. Pelajar yang mandiri juga memiliki regulasi diri, yaitu kemampuan mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku dirinya untuk mencapai tujuan belajar.

Profil Pelajar Pancasila kelima yaitu bernalar kritis. Pelajar Indonesia yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpukannya. Terdapat empat elemen kunci bernalar kritis berupa pelajar yang mampu memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, mampu menganalisis dan mengevaluasi penalaran, dapat merefleksikan pemikiran dan proses berpikir, serta mampu mengambil keputusan.

Yang terakhir, kreatif. Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Dengan elemen kunci pelajar yang dapat menghasilkan gagasan yang orisinal, seperti menghasilkan gagasan yang terbentuk dari ekspresi pikiran dan/atau perasaan dan diaplikasikan menjadi ide baru yang berguna. Kemudian menghasilkan karya dan tindakan  yang orisinal yamg didorong oleh minat dan kesukaan pada suatu hal.

Profil Pelajar Pancasila diperlukan sebagai kompas bagi satuan pendidikan dalam mewujudkan karakter dan kompetensi peserta didik serta budaya sekolah. Profil Pelajar Pancasila juga sebagai penentu arah upaya peningkatan kualitas pendidikan, serta dapat memberikan gambaran tentang alur perkembangan yang dapat mewujudkan kesejahteraan peserta didik.

Untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila membutuhkan kerja sama di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dapat dimulai dengan pemberian contoh praktik baik nilai karakter oleh orang tua kepada anak di rumah, agar nilai karakter tertanam sejak usia dini. Tak kalah pentingnya adalah sinkronisasi pendidikan karakter di sekolah dan di rumah.

Survei karakter yang ada dalam bagian asesmen nasional mendorong pengembangan sikap, nilai, dan perilaku yang mencirikan pelajar Pancasila. Survei karakter memberikan sinyal bahwa sekolah perlu memperhatikan tumbuh kembang siswa secara utuh, mencakup dimensi kognitif, afektif, dan spiritual. (INT)