Urgensi Kecakapan Literasi dan Numerasi

Halaman : 13
Edisi 60/Juni 2022

Semua Guru adalah Guru Literasi dan Numerasi

Masyarakat memerlukan kemampuan untuk memahami informasi baik berupa teks, angka, maupun data, memilah informasi yang tersaji, menggunakan informasi yang relevan untuk menjustifikasi serta merasionalisasi informasi tersebut masuk ke kategori ‘benar’ atau ‘salah’. Asesmen Kompetensi Minimum atau AKM sebagai bagian dari asesmen nasional dirancang untuk mengukur hasil belajar kognitif dari sisi kompetensi literasi membaca dan numerasi.

Beberapa waktu yang lalu, di media massa muncul banyak tajuk berita yang terkait dengan penipuan, seperti: “Jamaah Umroh Gagal Berangkat Melapor ke Pihak Berwenang”, “Modus Open Trip Super Murah, Uangpun Melayang”, atau “Kasus Investasi Bodong dan Gagal Bayar”.

Korbannya berasal dari hampir seluruh lapisan masyarakat, beragam profesi lintas bidang pekerjaan. Tidak pandang bulu. Apa yang diperlukan agar tidak menjadi korban kasus serupa?

 

Semua Mata Pelajaran

Kemampuan dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu, menjadi sederet kompetensi yang perlu dimiliki masyarakat. Di sinilah peran dari asesmen literasi membaca. Sedangkan asesmen numerasi dilaksanakan untuk mengukur kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks.

Informasi berupa teks dan angka dapat kita temukan di berbagai bidang. Oleh karena itu membangun literasi membaca dan numerasi dapat dilakukan di semua bidang, di semua mata pelajaran.

Misalnya belajar konsep waktu. Saat pelajaran olahraga, konsep waktu digunakan untuk aturan permainan olahraga. Saat pelajaran ilmu sosial konsep waktu digunakan untuk memahami linimasa. Saat pelajaran IPA konsep waktu digunakan untuk menentukan proses percobaan. Saat pelajaran agama, konsep waktu digunakan untuk mengetahui jadwal ibadah.

Saat pelajaran prakarya konsep waktu digunakan untuk prosedur menciptakan suatu produk. Saat pelajaran PPKn konsep waktu digunakan untuk memahami kecepatan respons kemanusiaan di suatu lingkungan. Saat pelajaran bahasa, ritme berbicara menerapkan juga konsep waktu.

Premis “Learning to Read, Reading to Learn” bahwa kita tidak hanya memastikan setiap murid mampu membaca, namun mampu memanfaatkan kemampuan membacanya untuk belajar menguasai bidang-bidang lainnya, merupakan jargon yang sangat tepat menggambarkan pentingnya literasi membaca di semua mata pelajaran.

Informasi berupa teks dan angka dapat kita temukan di berbagai bidang. Oleh karena itu membangun literasi membaca dan numerasi dapat dilakukan di semua bidang, di semua mata pelajaran.

Pada mata pelajaran apapun, konten disajikan dalam beragam format visual, buku bacaan, modul, atau infografis. Ini semua memerlukan kemampuan murid untuk paham dengan informasi yang disajikan. Pemahaman tersebut didorong lebih jauh untuk murid mampu mengevaluasi kualitas serta kredibilitas teks, kemudian mengaitkan isi teks yang valid dengan masalah yang ada di sekitarnya – baik dalam ruang lingkup internal, regional maupun global.

Contoh teks prosedur dapat ditemukan di beragam mata pelajaran: prosedur permainan olahraga, prosedur memasak, prosedur menjalankan mesin, prosedur memberikan pendapat di suatu konferensi, prosedur beribadah, prosedur instalasi, prosedur berkontribusi dalam penggalangan dana, prosedur melakukan komputasi, dan sebagainya. Setiap murid diharapkan tidak hanya memahami prosedur, namun dapat menjalankan prosedur tersebut bahkan menelaah dan merefleksi adakah bagian dari prosedur tersebut yang dapat diperbaiki agar lebih relevan, lebih efektif serta lebih efisien.

Kedua ilustrasi pemahaman konsep waktu dan penggunaan teks prosedur menunjukkan bahwa semua guru adalah guru literasi membaca dan numerasi. Guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang mendorong murid tidak sekadar membaca dan memahami konten, namun dipantik untuk berargumen mengenai konten, berdiskusi ragam pemahaman yang berbeda terkait konten, serta merancang solusi beragam masalah melalui pemanfaatan konten yang disajikan dalam bacaan. (Rachmawati/ALN)