Alternatif Pembelajaran Menyenangkan Berbiaya Murah dan Hemat Tempat

Halaman : 30
Edisi 40/Oktober - 2019

Oleh: Nanik Suratmi dan Uun Munhaji

FKIP Universitas Kanjuruhan Malang

Di Indonesia, masalah yang paling memprihatinkan dihadapi oleh pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah proses pembelajaran yang terjadi mirip dengan pengajaran yang diberikan siswa sekolah dasar. Padahal penerapan model seperti ini dapat menghambat perkembangan kompetensi dasar dan kecerdasan jamak anak usia dini (AUD). Penelitian berikut mencoba menjawab persoalan tersebut melalui penerapan model Unfold Circles.

Untuk mengembalikan fungsi Taman Kanak-Kanak (TK) seperti tujuan semula yaitu taman bermain tanpa tuntutan apa-apa, penulis mengembangkan model Beyond Center and Circle Time (BCCT), yaitu model pembelajaran AUD yang dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research di Florida, Amerika Serikat. Secara sederhana model BCCT merupakan strategi pembelajaran dengan konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong anak membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Lestarini, 2013).

Sayangnya, di Indonesia model ini sulit diterapkan di PAUD karena memerlukan dana besar dan lahan luas. Demikian juga dengan rasio perbandingan guru/peserta didik yang hanya 1 guru/5 anak (Lestarini, 2013; Rahman, 2013).

Berdasarkan kenyataan ini, maka BCCT dikembangkan menjadi model Unfold Circles, sebagai model pembelajaran AUD berbasis kondisi dan situasi di mana PAUD berada, serta dapat membentuk karakter. Unfold Circles merupakan model setting lingkaran berlipat, di mana penilaian perkembangan peserta didik dilakukan melalui pengamatan perilaku individu sebagai anggota dalam lingkaran-lingkaran kecil dan dilanjutkan pengamatan pada seluruh peserta didik dalam lingkaran besar.

Dengan mengembangkan BCCT menjadi Unfold Circles diharapkan hasil pengembangan terhadap output PAUD adalah anak mampu memperoleh pengetahuan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses yang dilakukan dan dicoba sendiri. Ini sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat dan masa yang akan datang (jangka panjang).

Dengan teori-teori yang mendasari pengembangan Unfold Circles, dikembangkan model BCCT dengan mengubah settingpembelajaran. Proses pembelajaran dirancangdengan mengembangkan tema dalam kurikulumgenerik PAUD menjadi subtema yang menarikdan konstektual bagi anak untuk mencapaikompetensi yang diharapkan dapat dikuasai AUD.

Apa itu Unfold Circles?

Model ini menghadirkan satupola, di mana dalam satu kegiatan main, areapermainan dibagi menjadi 3 lingkaran besar, yangselanjutnya setiap lingkaran besar masih dibagilagi menjadi 3 lingkaran kecil yang berisi 5 anak,dengan kegiatan main yang sama; rasioperbandingan guru/peserta didik adalah 1 guru/15 anak; dan pengembangan kompetensi,kecerdasan dan pembentukan karakter anakdikembangkan dalam sub-tema RancanganKegiatan Harian (RKH).

Dengan mengemas area permainan dan metode pembelajaran Unfold Circles, maka sangat diharapkan bahwa model ini mampu membuat AUD merasakan pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning) walaupun mereka berada dalam kelas besar (> 35 peserta didik/kelas); mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kecerdasan, dan karakter dasar AUD; serta mengembalikan fungsi hakiki PAUD sebagai taman yang indah untuk belajar melalui bermain.

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 2008 tentang AUD. Penelitian ini dilaksanakan dengan empat tahapan penelitian, yaitu 1) tahap eksplorasi, 2) tahap pengembangan, 3) tahap penerapan model, dan 4) tahap mindset transformation. Penelitian dilakukan dengan multimetode, yaitu metode deskriptif kualitatif dan penelitian tindakan kelas (PTK).

Kompetensi Masih Rendah

Pada tahap eksplorasi, ditemukan bahwa kompetensi profesional guru PAUD Kota dan Kabupaten Malang masih rendah, tergambar sebagai berikut: 1) mindset guru PAUD bahwa mengajar di PAUD mudah dan dapat dilakukan tanpa persiapan; 2) Banyak guru PAUD masih lulusan SMA dan
SMP; 3) para guru PAUD kurang mengikuti pelatihan (sebagian guru PAUD masih mempunyai gaji lebih rendah dari UMR); 4) faktor kuantitas guru tidak pernah diperhatikan oleh pengelola PAUD, guru mengajar lebih dari 35 peserta didik/kelas menimbulkan banyak masalah baru; dan 4) banyak PAUD yang melaksanakan proses pembelajaran di fasilitas umum, sehingga proses pembelajaran akan terganggu sewaktu-waktu ada kegiatan umum lainnya.

Sementara itu pada tahap pengembangan, diperoleh hasil bahwa model Unfold Circles berbasis situasi dan kondisi PAUD. Dalam model Unfold Circles semua area permainan dalam dan luar ruangan dibuat sangat sederhana dan terbuka, dengan tetap mempertahankan karakteristik model BCCT asli.

Pada tahap perkembangan meliputi: 1) area main dalam satu kegiatan main dibagi menjadi tiga lingkaran besar berisi 15 peserta didik/lingkaran. Selanjutnya setiap lingkaran besar dibagi lagi menjadi tiga lingkaran kecil dengan 5 peserta didik/lingkaran kecil, 2) kegiatan main untuk lingkaran-lingkaran kecil dalam setiap lingkaran besar alah sama, 3) rasio perbandingan guru dan peserta didik adalah 1 guru/15 anak/lingkaran besar, 4) satu tema dalam kurikulum dikembangkan untuk tiga kegiatan main yang dideskripsikan dalam rancangan kegiatan harian (RKH).

Disesuaikan dengan Situasi dan Kondisi

Dengan penataan area permainan sederhana dan fleksibel, juga APE yang dapat dibuat sendiri dari bahan sekitar, maka sangat memungkinkan model Unfold Circles diterapkan pada semua PAUD dalam berbagai situasi dan kondisi, karena model ini tidak memerlukan lahan yang luas dan dana yang besar. Namun pelaksanaan model ini memerlukan: 1) kreativitas tinggi dari guru dalam merancang RKH (yang mampu membentuk dan mengembangkan 9 pilar karakter dasar) dan APE; serta 2) kemampuan guru dalam mengendalikan sifat AUD yang mudah bosan dan selalu ingin tahu pada pada hal-hal yang baru.

Setelah dilakukan penerapan model di PAUD perkotaan dan pedesaan terlihat hasil yang cukup baik. Dari 45 peserta didik di PAUD perkotaan, sebanyak 29 anak mengalami peningkatan secara sangat signifikan (64 persen), sedangkan sebanyak 16 anak mengalami peningkatan secara signifikan (36 persen). Selain itu, semua peserta didik mencapai indikator kemampuan dasar dan kecerdasan jamak yang berkembang sangat baik, demikian juga dengan 9 karakter dasar, semuanya dapat berkembang sangat baik.

Dari 25 indikator kemampuan dasar, sebanyak 20 indikator dapat ditingkatkan secara sangat signifikan. Kemampuan yang mengalami peningkatan secara signifikan adalah: 1) menyelesaikan tugas dengan baik/fisik-motorik; 2) menyebut nama hasil kegiatan/bahasa; 3) kesempurnaan hasil kegiatan/fisik-motorik; 4) keberanian bertanya pada temannya/Interpersonal; 5) keberanian menceritakan pengalaman yang baru dilakukan/Bahasa.

Sementara itu pada PAUD pedesaan, dari45 peserta didik, sebanyak 11 peserta didikmengalami peningkatan kecerdasan jamaksecara signifikan (27 persen), sedangkan sisanyasebanyak 34 anak mengalami peningkatankurang signifikan (73 persen).Semua 45 peserta didik mengalami peningkatan kemampuan dasar secara signifikan(100 persen); hanya 1 indikator kemampuan dasaryang tidak mengalami peningkatan yaitukesempurnaan hasil (fisik-motorik).

Karakter dasar yang berkembang dengan baik adalah: takwa pada Tuhan, jujur, sopan, suka menolong, pantang menyerah, rendah hati, toleransi, empati; dan yang kurang berkembang adalah: mandiri, disiplin, bertanggung jawab, berkata sopan dan baik, hormat pada guru, patuh, menjadi pendengar yang baik.

Dengan mengemas area permainan dan metode pembelajaran Unfold Circles, maka sangat diharapkan bahwa model ini mampu membuat AUD merasakan pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning).

Keunggulan Unfold Circles

Model ini mempunyai beberapa keunggulan, yaitu ketuntasan tugas yang diemban peserta didik; tidak memerlukan dana besar dan lahan luas, serta mampu membentuk dan mengembangkan 9 pilar karakter dasar anak yang diwajibkan pemerintah. Adapun kelemahan model tampak ketika diterapkan pada peserta didik PAUD wilayah pedesaan, yang tampak jenuh ketika pembelajaran berlangsung dalam ruangan. Akan tetapi apabila pembelajaran berlangsung di luar ruangan, maka mereka menjadi sangat antusias.

Dari hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa model Unfold Circles secara valid dapat diterapkan pada PAUD wilayah perkotaan dan pedesaan, dalam berbagai situasi dan kondisi. Model ini juga mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kecerdasan jamak, serta membentuk karakter dasar AUD. Selain itu, model ini juga mengembalikan fungsi hakiki PAUD sebagai ‘taman yang indah bagi AUD untuk belajar melalui bermain’.

Saran diberikan kepada yang berwenang dengan PAUD, seperti: 1) bagi pengembang PAUD, model Unfold Circles memberi kontribusi bagi pengembangan strategi pembelajaran AUD sesuai dengan situasi dan kondisi PAUD. Diharapkan mereka memberi referensi pelaksanaan Unfold Circles di seluruh PAUD di Indonesia; 2) bagi Ikatan Gutu Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) penelitian ini menjadi referensi untuk diskusi perbaikan mutu pendidikan dan tenaga pendidik PAUD secara berkelanjutan. (RAN)