Cengkeh Hanya ada di Maluku

Halaman : 30
Edisi 46/Agustus 2020

“Saudagar-saudagar Melayu mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk fuli (dan pala) dan Maluku (utara) untuk cengkeh, dan barang-barang dagangan ini tidak tumbuh di tempat lain di dunia kecuali di tempat itu.”

Daya tarik rempah-rempah (cengkeh, pala, dan bunga pala), menjadi dorongan utama perkembangan perdagangan antarbangsa di Asia Tenggara. Pakar tumbuh-tumbuhan menyata-kan bahwa cengkeh (Eugenia aromatica, Kuntze) hanya tumbuh di Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Pala dan bunga merahnya diperoleh dari pohon pala (Myristica fragrans, Linn) terdapat di Pulau Banda. Setelah tahun 1550 pohon-pohon ditanam di kawasan lain di Nusantara. Dengan kemajuan teknologi budidaya tanaman, pada akhirnya dapat ditanam di beberapa tempat di dunia.

Melalui komoditi cengkeh dan pala, dapat ditelusuri jalur-jalur pelayaran dan perdagangan sampai seberapa jauh hubungan Maluku dengan dunia luar. Sebuah sumber tertulis Romawi dari Plinius Major (tahun 75 Masehi) menyebutkan garyophyllon (nama tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di hutan sakti India). Diduga bahwa yang dimaksud dengan garyophyllon adalah cengkeh, dan telah dikenal di benua Eropa pada awal abad Masehi. Namun, jauh sebe-lum itu pada sebuah ekskavasi arkeologis di Situs Terqa (Mesopotamia, Syria) ditemukan sebuah jambangan yang penuh berisi cengkeh. Jambangan ini ditemukan pada sebuah ruangan dapur rumah sederhana yang berasal dari sekitar tahun 1700 SM.

Sumber Eropa lainnya menyebutkan bahwa St. Silvester, seorang Uskup Roma (314-335 Masehi) menerima hadiah 150 pon Cengkeh Hanya ada di Maluku cengkeh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada tahun 547 Cosmos Indicopleustis mencatat di antara barang-barang dagangannya terdapat rempah-rempah yang didatangkan dari Tiongkok dan Srilanka.

Sumber-sumber tertulis tentang hasil dari Maluku, mengindikasikan bahwa bukan pembeli yang datang ke Maluku, melainkan orang-orang dari Maluku (Nusantara) yang datang. Kalau pembeli yang datang, biasanya diceriterakan juga tempat yang didatangi itu. Sebuah deskripsi “menyesatkan” yang ditulis oleh penulis Arab terkenal Ibnu Battuta (1350 Masehi) menyatakan: “cengkeh yang diperdagangkan adalah batang pohonnya, buahnya disebut pala, dan bunganya dinamakan fuli. Ini berarti, Ibnu Battuta tidak tahu bagaimana bentuk pohon cengkeh dan bagaimana bentuk pohon pala.

Sampai seberapa jauh para pelaut Nusantara ini mengarungi laut. Apakah mereka hanya melayari laut/selat yang memisahkan antar pulau, atau lebih jauh lagi sampai ke Asia Selatan, Tiongkok, Asia Timur, atau lebih jauh lagi bahkan sampai ke Eropa? Sebuah gambar cat air menggambarkan sebuah perahu besar dengan 9-10 pendayung dan sebuah layar besar. Perahu besar ini sangat layak untuk pelayaran jarak jauh dan dipergunakan untuk mengangkut rempah-rempah, khususnya pala dan cengkeh, ke pelabuhan entrepôt di Asia Tenggara.