Manajemen Sekolah untuk Mencapai Sekolah Unggul yang Menyenangkan

Halaman : 30
Edisi 40/Oktober - 2019

Pendidikan adalah satu dari faktor dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Meramu metode pendidikan secara apik untuk menghasilkan bibit unggul sudah sering kita dengar, namun mengemasnya dengan cara yang menyenangkan tidak semua orang bisa melakukannya. Kepala sekolah sebagai nakhoda di sekolah dan penentu kebijakan dalam mengimplementasikan pembelajaran menjadi indikator yang paling utama dalam mewujudkan sekolah unggul yang menyenangkan. 

 

Hasil penelitian di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN)1 Pakem, Sleman, Yogyakarta menunjukkan bahwa kriteria sekolah yang menyenangkan dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu kepemimpinan kepala sekolah, dukungan pendidik dan tenaga kependidikan, lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, kegiatan pembelajaran, layanan prima, serta iklim kelas. Pengelolaan sekolah yangberfokus pada hal-hal tersebut terbukti mampu menjadikan sekolah ungguldanmenyenangkan.

 

Pengelolaan Sekolah

Kepemimpinan kepala SMAN I Pakem telah menunjukkan perannya dengan baik sebagai pemimpin, pengelola, pengabdi, dan sebagai pelayan bagi seluruh warga sekolah. Kemampuan diadalam memberdayakan potensi sekolah mampumenyelenggarakan sekolah dalam suasana menyenangkan.

 

Sementara itu,menyangkut kualifikasi pendidikan dan kompetensi, pendidik dan tenaga kependidikan di SMAN I Pakem Sleman cukup baik. Dalam kegiatan pembelajaran, para guru memiliki kemampuan didaktikmetodik yang baik. Mereka mampu mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara koheren-integratif sehingga memiliki kinerja baik dan berdampak pada prestasi siswa yang baik pula.

 

Selanjutnya lingkungan sekolah baik dan kondusif sangat mendukung kegiatan pembelajaran maupun kegiatan-kegiatan akademik dan sosial lain di sekolah serta letak sekolah yang cukup strategis dan didukung udara yang sejuk. Sekolah juga memiliki sarana prasarana yang memadai untuk mendukung kegiatan pembelajaran seperti ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantor kepala sekolah, kantor guru, masjid, ruang unit kesehatan sekolah, dan lapangan cukup luas serta memadai untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Selain itu, sekolah juga memiliki kelengkapan alat, media, dan sumber belajar yang cukup.

 

Di sisi lain, sekolah menerapkan layanan prima yang mengedepankan kepuasan pelanggan. Layanan prima ini telah dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya kepada siswa sehingga siswa menjadi nyaman dalam mengikuti proses belajar siswa. Sementara itu, terkait dengan iklim kelas yang menjadisatu dari indikator penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, sekolah menjadikan suasana kelas sarat dengan energi positif yang difasilitasi dengan berbagai kegiatan.

 

Sekolah adalah lingkungan kedua terdekat dari anak-anak kita setelah keluarga, bahkan sering kali, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Oleh karena itu, sebagai wadah pembentukan dan penumbuhan karakter siswa maka suasana dan kondisi sekolah yang nyaman, bersih, rapih, dan aman sangat penting dalam menunjang terwujudnya sekolah yang menyenangkan.

 

Selain itu, sekolah adalah tempat anak berlindung dari kebodohan, tempat anak mengasah intelektualitasnya, dan tempat anak bersosialisasi secara baik dalam rangka pengembangan kepribadian. Sebagai benteng peradaban, sekolah mestinya menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi anak dalam bergaul dengan sesama, belajar menghormati guru, belajar mematuhi aturan, dan belajar seluk-beluk kehidupan. Suasana dan kondisi tersebut menjadi tugas dan tanggungjawab semua komponen di lingkungan sekolah.

 

SMA Negeri I Pakem Sleman berdasarkan penelaahan secara holistik menunjukkan bahwa sekolah ini termasuk kategori sekolah unggul dan menyenangkan.Hampir seluruh instrumen sekolah mendukung kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara harmoni, menempatkan siswa tidak hanya sebagai objek pembelajaran, melainkan sebagai subjek pembelajaran.

 

Kultur Sekolah

Kegiatan pendidikan di sekolah menempatkan para siswa sebagai pelanggan yang harus diberikan pelayanan oleh sekolah secara prima. Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan adalah pelayan mereka yang harus mampu menciptakan situasi yang menyenangkan sehingga mereka merasa “betah” tinggal di sekolah sebagai rumah keduanmya.Guru adalah orang tua kedua yang harus dihargai dan menjadi sebuah keluarga dalam konteks warga sekolah.

 

Semua penciptaan kultur sekolah menjadi penting untuk keberlangsungan pelaksanaan pendidikan yang menyenangkan. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Siswanto (2014), bahwa penerapan kultur sekolah yang positif di dalam dan luar kelas sangat penting, terutama untuk membiasakan para siswa dalam berinteraksi dengan orang lain. Terciptanya kultur sekolah yang baik, akan mengarahkan merekamemiliki teman yang dapat memberi motivasi belajar dan terhindar dari teman yang dapat memberi dampak negatif bagi dirinya.

 

Dari hasil penelitian di SMAN 1 Pakem, terdapat banyak kegiatan ekstrakurikuler yang dikelola oleh pihak sekolah dan organisasi siswa intra sekolah (OSIS) dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik. Kegiatan-kegiatan tersebut sifatnya wajib, semi wajib, dan pilihan bagi kelas X dan XI yang dilaksanakan pada hari Senin-- Sabtu setelah kegiatan belajar mengajar berakhir. Berbagai ekstrakrikuler itu meliputi: Pramuka, Pendalaman Materi, Peleton Inti, Seni Vokal, Seni Instrumentalia, Seni Budaya Jawa, Jurnalistik, Karya Ilmiah Remaja, Agrobisnis, Kewirausahaan/Koperasi Siswa, Olimpiade, Seni Tari, Debat, Seni Desain Grafis, Menjahit, Futsal, Palang Merah Remaja, Basket, dan Fotografi.

 

Melalui ekstrakurikuler inilah potensi peserta didik dapat disalurkan, hal ini dibuktikan melalui berbagai macam kejuaraan yang berhasil diraih oleh para siswa. Kejuaraan tersebut berasal dari berbagai macam bidang lomba yang aktif diikuti oleh SMAN 1 Pakem seperti lomba keagamaan, seni suara, lomba tonti, pramuka, basket, dan debat Bahasa Inggris. Kegiatan OSIS secara umum berjalan dengan baik, OSIS aktif dalam kegiatan rutin sekolah seperti Masa Orientasi Peserta Didik Baru, perekrutan anggota baru, bakti sosial di sekolah. Anggota OSIS mengadakan pertemuan rutin di perpustakaan atau menggunakan ruang kelas setelah pulang sekolah (KS, Wawancara 18 Mei 2015).

 

Sementara itu, sekolah unggul dan menyenangkan ditunjukkan melalui kegiatan pembudayaan dan pembiasaan di sekolah. Misalnya, memberi senyum, sapa, dan salam; membersihkan lingkungan sekolah; bersikap santun; berpakaian sopan dan sesuai; menyiapkan tempat sampah dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan; serta membersihkan sanitasi seperti toilet, wastafel, kamar mandi, dan atau saluran air. Semua itu termasuk dalam kebiasaan umum.

 

Adapun kebiasaan harianmeliputi kebiasaanpeserta didik mencium tangan dan atau memeluk orang tua/wali sebelum berangkat ke sekolah; pendidik dan tenaga kependidikan datang lebih awal untuk menyambut peserta didik dengan bersalaman; peserta didik berbaris menjelang masuk kelas yang dipimpin oleh satu orang peserta didik secara bergantian; peserta didik mengucapkan salam pada saat masuk kelas;  peserta didik membaca doa sebelum dan sesudah belajar; peserta didik melaksanakan piket kebersihan kelas secara bergantian; warga sekolah menunaikan Salat Dzuhur secara berjamaah; sertasetiap peserta didik dapat menjadi pemimpin dalam setiap kegiatan bersama, seperti berbaris menjelang masuk kelas, membaca doa sebelum dan sesudah belajar, piket kelas, maupun kerja bakti.

 

Terakhir, keberhasilan suatu program tentu harus sejalan dengan nilai manfaat yang dirasakan oleh penggunanya. Kepala sekolah perlu melakukan evaluasi secara periodik untuk mendapat masukan dari guru maupun siswa tentang kondisi dan suasana sekolah yang diharapkan. Masukkan tersebut berguna untuk melihat seberapa besar dampak yang ditimbulkan atas kebijakan tertentu dan sejauh mana kebijakan itu berpengaruh pada pencapaian kondisi dan suasana sekolah yang menyenangkan.

 

Upaya penumbuhan nilai-nilai religius, kejujuran, disiplin, tertib/rapi, dan tanggungjawab pada diri warga sekolah dalam mewujudkan sekolah menyenangkan juga menjadi kunci keberhasilan sekolah dalam mencapai visi dan misi sekolah. Mewujudkan sekolah yang menyenangkan dengan pelibatan komite sekolah juga sangat diperlukan. Dengan melibatkan komite, sekolah dapat menggali sumberdaya yang ada dari masyarakat. Disamping itu, sekolah memperoleh masukan berupa pemikiran-pemikiran dalam memajukan sekolah. Pelibatan semua komponen warga sekolah akan memberikan daya dorong bagi sekolah untuk bekerjasama mencapai sekolah yang menyenangkan.

 

Berdasarkan uraian di atas, terciptanya model pengelolaan sekolah yang menyenangkan bukanlah hal yang mustahil selagi semua perangkat sekolah bergerak bersama mendukung terciptanya suasana yang nyaman dan aman dalam proses pembelajaran seperti yang berlaku di SMAN I Pakem.Berangkat dari hasil penelitian ini, SMAN 1 Pakem telah membuktikan bahwa ia telah menjadi salah satu praktik baik yang berhasil dan dapat dicontoh bagi sekolah lain, maupun masyarakat luas. Mengingat sejatinya pendidikan itu berawal dari lingkungan terkecil, berlangsung sepanjang hayat, dan kita sebagai pelakunya bisa saling menginsipirasi demi tercapainya kualitas pendidikan yang semakin baik. (DLA)