Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Tiga Jalur Kurikuler

Halaman : 29
Edisi 41/Desember - 2019

Oleh: Bambang Indriyanto

Peneliti Madya, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan

Dari perspektif pedagogis tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan kompetensi siswa sehingga dapat menjadi manusia yang kompeten dan mandiri. Dengan kompetensi dan kemandirian ini maka setiap siswa ketika kelak menjadi dewasa dapat berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan kemasyarakatan, melalui profesi yang ditekuninya.

Kriteria kompeten dan mandiri berdasarakan pada taksonomi Bloom meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut dapat dicapai melalui tiga jalur kurikuler yang bersifat saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Tiga jalur kurikuler yaitu tersebut yaitu intra-kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra-kurikuler.

Penguatan karakter melalui jalur intra-kurikuler berlangsung ketika proses belajar mengajar di kelas berlangsung yakni saat guru sedang menjelaskan salah satu atau lebih dari satu konsep mata pelajaran. Penjelasan terhadap konsep-konsep tersebut tidak hanya pada isinya, tetapi juga meliputi makna yang terkandung dalam konsep-konsep tersebut. Hal ini didasarkan pada satu asumsi bahwa setiap konsep dari suatu mata pelajaran tidak hanya mempunyai muatan yang dapat untuk menstimulasi daya nalar siswa, tetapi juga mempunyai muatan afektif yang dapat menstimulasi perasaan siswa.

Guru dan siswa cenderung mempunyai pemahaman bahwa konsep dari yang diturunkan dari suatu mata pelajaran hanya ditujukan untuk meningkatkan nalar berfikir siswa. Dari perspektif pedagogis, setiap konsep yang diturunkan dari mata pelajaran mempunyai dua misi, yaitu misi ekslisit dan misi implisit. Misi eksplisit meliputi penjelasan tentang isi konsep dari suatu mata pelajaran, sedangkan misi implisit dari kurikulum memuat nilai-nilai yang terkandung dari setiap konsep yang diajarkan.

Dari sudut pandang misi eksplisit kurikulum tujuan pengajaran suatu konsep adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap isi suatu konsep, sedangkan dari sudut pandang misi implisit pengajaran suatu dikonsep ditujukan untuk peningkatan internalisasi terhadap makna dari suatu konsep terhadap kehidupan siswa sehari-hari baik pada masa sekarang maupun pada masa depan setelah siswa menjadi dewasa dan terjun pada suatu bidang profesi.

Jalur ko-kurikuler merupakan sarana untuk melengkapi makna dari suatu konsep yakni dengan cara mempraktikkan nilai-nilai dari suatu konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari siswa. Misal jika dalam konsep mata pelajaran agama terdapat pembahasan tentang tata cara melakukan ibadah agama, maka perwujudan dari jalur ko-kurikuler siswa diajak untuk mempraktikkan ibadah agama. Dalam melaksanakan praktik ibadah agama siswa tidak hanya diajarkan cara melakukannya secara benar, tetapi juga guru menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tahap praktik ibadah.

Jalur ekstra-kurikuler merupakan sarana menyalurkan minat dan bakat siswa pada area non-akademik, seperti misal seni atau olah raga. Dalam realitasnya, ketika siswa terlibat dalam suatu kegiatan ekstra kurikuler muatan nilai-nilai yang berhimpit dengan jalur ko-kurikuler. Di lain pihak, realisasi ko-kurikuler dapat juga diaktualisasikan dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler.

“Keterkaitan antara apa yang dipelajari dengan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari akan dapat memfasilitasi siswa dalam proses habituasi terhadap makna dan nilai dari setiap konsep mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa.”

Fenomena yang terjadi sekitar kehidupan siswa dapat menjadi rujukan dalam pengembangan bahan ajar pada jalur intra-kurikuler. Dengan demikian hasil dari pembelajaran melalui jalur intra-kurikuler menjadi relevan untuk dijadikan dasar pengembangan program ko dan ekstra kurikuler. Fenomena sekitar kehidupan siswa tidak bersifat statis, tetapi bersifat dinamis yang senantiasa berubah setiap hari. Jika fenomena kehidupan sekitar siswa menjadi rujukan dalam pengembangan program pengajaran intra-kurikuler dan kegiatan ko-kurikuler serta ekstra-kurikuler, maka dinamika sekitar kehidupan siswa dapat menjadi sumber up-date pengembangan program pada ketiga jalur kurikuler tersebut.

Interaksi antara program pengajaran melalui ketiga jalur kurikuler dengan fenomena dan dinamika sekitar kehidupan siswa merupakan penerapan dua metode mengajar yaitu contextual learning dan scientific learning. Penerapan kedua metode ini akan memberikan makna karena PPK melalui tiga kurikuler tersebut tidak terlepas dari konteks kehidupan siswa. Keterkaitan antara apa yang dipelajari dengan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari akan dapat memfasilitasi siswa dalam proses habituasi terhadap makna dan nilai dari setiap konsep mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa.

Metode scientific learning mendorong siswa untuk berpikir secara sistematis dan menyeluruh dalam mengaitkan apa yang dipelajari di sekolah dengan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-sehari. Kelak ketika siswa menjadi dewasa dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat melalui profesi yang ditekuni, pendekatan scientific learning dapat menjadi dasar bagi siswa untuk melakukan eksplorasi berbagai kemungkinan pengembangan kompetensi profesional dalam bidang yang menjadi profesinya. Pengembangan ini pada gilirannya akan memberikan sumbangan secara maksimal terhadap perkembangan masyarakat dan bangsa.

Keberhasilan dalam pelaksanaan PPK melalui tiga jalur kurikuler ini tidak hanya didukung oleh guru yang kompeten dalam membimbing dan membina siswa selama siswa belajar di sekolah, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam melakukan penilaian terhadap aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Penilaian ini tidak dilakukan diujung proses belajar mengajar, tetapi juga dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung melalui pendekatan sistem portofolio. (*)