Pemerataan Kesejahteraan untuk Semua Lapisan Masyarakat Melalui Kemajuan Budaya

Halaman : 26
Edisi 37/Oktober - 2019

Di tengah semaraknya Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) yang mengangkat tema “Indonesia Bahagia”, diselenggarakan pula International Forum for the Advancement of Culture (IFAC), sebuah forum internasional yang bersifat people-to-people. Forum kolaborasi internasional ini berlangsung di Jakarta pada 10 s.d 13 Oktober 2019.

 

IFAC adalah sebuah platform kolaborasi antarmasyarakat di seluruh dunia untuk memperkuat upaya global dalam pengarusutamaan budaya dengan penekanan khusus pada dampak kebudayaan terhadap kesejahteraan. IFAC dilatarbelakangi oleh World Culture Forum (WCF) yang dirancang sebagai platform antarpemerintah di seluruh dunia untuk menetapkan agenda pengarusutamaan budaya pada proses pembuatan kebijakan di seluruh negara.

Walau WCF telah dicanangkan, muncul kebutuhan akan jaringan internasional yang didasari pada interaksi antarmasyarakat. Oleh karena itu IFAC digagas berdasarkan pada interaksi antarmasyarakat yang dapat memelopori agenda organik baru pengarusutamaan budaya dari bawah.

IFAC dirancang untuk menghasilkan keberagaman pandangan dan agenda bersama tentang pengarusutamaan budaya, dengan penekanan khusus pada dampak kebudayaan terhadap kesejahteraan. IFAC didasarkan pada gagasan bahwa pengarusutamaan budaya  memerlukan inisiatif masyarakat untuk memajukan ekspresi budaya mereka. Hal ini merupakan peran masyarakat untuk memperkaya budaya di luar batas, sedangkan peran pemerintah adalah untuk mengarusutamakan budaya di semua sektor pembuatan kebijakan.

IFAC diselenggarakan dengan harapan bahwa agar budaya menjadi pendorong dan penggerak pembangunan berkelanjutan, masyarakat harus memberdayakan budaya mereka untuk menyelesaikan tantangan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Mengetengahkan tema “Kemajuan Budaya untuk Kesejahteraan Semua” (Advancement of Culture for the Well-Being of All), IFAC terdiri dari serangkaian acara yang menginspirasi, gelar wicara dan diskusi dengan tujuan untuk berbagi praktik terbaik tentang kemajuan budaya di seluruh dunia, mengidentifikasi para pelaku dan pemangku kepentingan, serta membuat agenda dan rencana aksi bersama untuk sepuluh tahun ke depan.

Forum yang baru pertama kali diselenggarakan ini mengundang ahli dan praktisi kebudayaan seperti Harry Waluyo, Global Network of Facilitator for ICH-UNESCO in the Asia-Pacific Region; Daud Aris Tanudirjo, ahli Warisan Kebudayaan; Max Binur, Kurator Seni Budaya dan film dokumenter; Wafa Taftazani, Country Strategic Partnership Manager (Youtube), Google; dan masih banyak lagi.

Forum internasional ini dilaksanakan selama empat hari, dan dibuka dengan perbincangan inspiratif mengenai tema “Memajukan Budaya, Membentuk Kembali Masa Depan”. Sepanjang empat hari pelaksanaan, IFAC diisi dengan enam subtema yaitu: 1) Berbagi Sejarah, Melindungi Keanekaragaman Budaya; 2) Memanfaatkan Big Data, Membina Praktik Budaya; 3) Festival sebagai Metode: Jejaring Aksi; 4) Membawa Orang Kembali: Sebuah Kasus untuk Pembuatan Kebijakan Populer dalam Budaya; 5) Ekonomi Berbasis Budaya di Era Revolusi Industri 4.0; dan 6) Kesejahteraan untuk Semua: Menuju Hak Dasar Universal untuk Kebahagiaan.

 

Berbagi Sejarah, Melindungi Keanekaragaman Budaya

 

Tidak ada agenda pelestarian warisan budaya yang bisa dilakukan tanpa melibatkan peran aktif masyarakat dan kerja sama antar kelompok sosial. Berbagai kendala bermula dari dinamika antara pembuat kebijakan dan masyarakat sebagai pemangku kepentingan budaya. Sangat penting untuk mengatasi hambatan ini sehingga setiap pelestarian budaya dan warisan dapat menjadi dasar untuk melindungi dan memperkaya keanekaragaman budaya. Karena itu, pada subtema ini membicarakan bagaimana praktik baik dan menjawab tantangan dalam pengelolaan warisan budaya benda dan tak benda, serta peran yang diharapkan dari IFAC dalam mengawasi agenda dalam pengelolaan warisan budaya benda dan tak benda berdasarkan upaya masyarakat untuk memperkaya keragaman budaya.

 

Memanfaatkan Big Data, Membina Praktik Budaya

 

Big data, algoritma, dan pembelajaran mesin semakin menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berbudaya. Melalui media digital, produk budaya dapat diterima masyarakat dengan dimediasi oleh algoritma yang didukung oleh big data dan pembelajaran mesin, sehingga timbul kepentingan untuk memeriksa sejauh mana ilmu data diberdayakan dalam membuat kebijakan budaya dan praktik budaya di masyarakat. Subtema ini mengeksplorasi Praktik terbaik menggunakan ilmu data dalam praktik budaya dan pembuatan kebijakan budaya, tentang kedaulatan data dan kemandirian budaya di zaman algoritma, mengidentifikasi aktor dan pemangku kepentingan yang berfungsi mengakomodasi hubungan antara sains, teknologi, dan budaya.

 

Festival sebagai Metode: Jejaring Aksi

 

Festival bukan hanya serangkaian pertunjukan seni dan budaya. Apalagi festival adalah bagian dari proses konsolidasi pengetahuan budaya. Festival ini juga merupakan ruang budaya inklusif di mana orang berbaur tanpa memperhatikan hierarki sosial dan bebas untuk mengambil bagian dalam ekspresi budaya. Namun, pelembagaan festival sebagai peristiwa reguler berisiko mengurangi aspek transformatif festival sebagai metode perubahan sosial. Tantangan ‘festivalisme muncul di hadapan masyarakat di mana begitu banyak festival diadakan namun tidak memberikan dampak yang nyata pada masyarakat. Selain itu, festival diharapkan dapat menghadirkan kerangka kerja untuk aktivisme budaya baru, karena festival memainkan peran penting dalam membangun jaringan aktivisme budaya lintas batas. Praktik terbaik dan tantangan mengelola festival seni dan budaya sebagai metode perubahan sosial, dikupas lebih lanjut dalam subtema ketiga ini.

 

Membawa Masyarakat Kembali: Sebuah Kasus untuk Pembuatan Kebijakan Populer dalam Budaya

 

Indonesia memiliki tradisi tertentu yang disebut demokrasi deliberatif atau musyawarah mufakat, di mana orang terus berdiskusi sampai ada pendapat bersama, tanpa melalui mekanisme pemungutan suara. Namun, perencanaan publik berdasarkan proses musyawarah masih memiliki masalah. Selain menghabiskan banyak waktu dan energi, proses ini tidak dengan sendirinya menjamin untuk menegakkan prinsip-prinsip demokrasi karena di balik kesetaraan pendapat dapat mengintai fakta intimidasi sosial. Di sinilah budaya memainkan peran penting. Subtema ini mendalami praktik terbaik dan perencanaan populer berbasis pendekatan musyawarah dan pendekatan budaya.

 

Ekonomi Berbasis Budaya di Era Revolusi Industri 4.0

 

Penciptaan, produksi, penyebaran, transmisi, dan konsumsi adalah lima tahapan dalam siklus ekonomi budaya UNESCO. Pada subtema kelima ini IFAC memeriksa sejauh mana relevansi siklus ini dalam nilai ekonomi budaya di era Revolusi Industri 4.0. Praktik terbaik dalam mengelola ekonomi budaya berdasarkan pendekatan rantai nilai, membahas masalah ketergantungan dan hubungan asimetris dalam rantai nilai ekonomi budaya global, serta mengidentifikasi aktor dan pemangku kepentingan dalam menciptakan rantai nilai ekonomi budaya yang ideal akan dikaji lebih dalam.

 

Kesejahteraan untuk Semua: Menuju Hak Dasar Universal untuk Kebahagiaan

 

“Bagaimana kita memastikan bahwa kebahagiaan dapat diakses oleh semua orang?” Ini adalah tantangan bagi pemerintah dan masyarakat karena bukan hanya kekayaan, kebahagiaan adalah tujuan dari pembangunan dan semua upaya sosial. Banyak ahli berbicara tentang pendapatan dasar universal sebagai kerangka kerja baru untuk kesejahteraan sosial. Namun, jika tujuan pembangunan adalah kebahagiaan, maka universal basic income atau pendapatan dasar universal tidak memadai.

 

Jika demikian, gagasan tentang pendapatan dasar universal harus diperkuat oleh agenda untuk kebahagiaan dasar universal. Di sini budaya, sebagai akar dan faktor penentu kebahagiaan, memainkan peran sentral.  Oleh karena itu, pertanyaannya menjadi, “Apa jenis desain dan kebijakan budaya yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebahagiaan mereka di dunia ini? Apa yang menjamin bahwa kebahagiaan seseorang tidak mengganggu kebahagiaan orang lain?”.

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut pada subtema keenam inilah para ahli dan peserta IFAC memperdalam praktik terbaik inisiatif publik dan kebijakan budaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan tantangan untuk mencapai kesejahteraan universal berdasarkan inisiatif publik dan kebijakan budaya.

 

Hasil dari IFAC

 

Tidak hanya merencanakan langkah yang tepat memajukan budaya dalam semangat pengarusutamaan budaya, hasil juga harus dipikirkan. Hasilnya yaitu kesejahteraan untuk semua umat manusia hingga seluruh anggota biosfer. Hal ini dapat disebut juga sebagai kesejahteraan universal dan inklusif. Ini adalah tujuan dari semua strategi perkembangan yang juga merupakan tujuan tertinggi dari setiap upaya dalam semangat kemajuan dan pengarusutamaan budaya.

 

Agenda bersama dan rencana tindakan yang dihasilkan oleh IFAC dalam perencanaan langkah-langkah yang tepat untuk mencapai target 2030 akan dikembangkan sebagai masalah utama yang dieksplorasi oleh WCF 2020 yang diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk pembangunan. Dalam hal ini, hasil dari IFAC akan memandu agenda global pengarusutamaan budaya. (INT, Sumber: https://www.ifac-wcf.or.id)