Strategi Kebudayaan untuk Ketahanan Budaya dan Pendidikan Karakter Bangsa

Halaman : 25
Edisi 40/Oktober - 2019

Dampak globalisasi terhadap kebudayaan kita terasa langsung pada kehidupan budaya masyarakat urban. Di lingkungan perkotaan, masyarakat dihadapkan pada sebuah tegangan yakni terasing dari budaya tradisi yang menjadi akar mereka, namun di sisi lain, mereka tidak sepenuhnya terserap dalam budaya global. Pada situasi seperti itu, masyarakat rentan mengalami krisis jatidiri dan kehilangan pegangan hidup yang dahulu disediakan oleh budaya tradisi. Bahkan situasi ini dapat memicu konflik identitas yang bisa berujung secara ekstrem pada pengerasan identitas primordial dan fanatisme apabila tidak disikapi secara dewasa.

 

KENDATI BEGITU, kita tidak bisamenimpakan seluruh kesalahan pada globalisasi karena dampak dari perkembangan teknologi, globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Kelangsungan kehidupan perekonomian kita bergantung pada interaksi dengan dunia dan perkembangan peradaban pun mensyaratkan hubungan saling belajar dengan peradaban-peradaban dunia. Jika kita memutus segala tautan pada globalisasi berarti kita mengucilkan diri sendiri. Oleh karena itu, kita mesti mencari titik temu diantara berbagai efek positif dan negatif dari globalisasi demi memajukan kepentingan nasional dan salah satu isu krusial dari penyikapan tersebut adalah pertimbangan ketahanan budaya.

Cara membangun ketahanan budaya di era globalisasi ini tak ada lain adalah dengan membuat budaya tradisi kita tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu menjawab kebutuhan nyata di lingkungannya dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat. Tantangan membangun ketahanan budaya di era globalisasi terletak pada peningkaan relevansi budaya tradisi melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan secara sistematis serta berkelanjutan di bidang kebudayaan. Itulah yang dimaksud dengan strategi pemajuan kebudayaan.

Salah satu tantangan paling konkrit dari ketahanan budaya saat ini adalah penajaman konflik sosial berbasis sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang diakibatkan oleh pengerasan identitas primordial. Orang menjadi semakin intoleran terhadap perbedaan budaya antarkelompok dan memandang budaya kelompok sendiri lebih tinggi dari budaya kelompok lain. Hal ini bisa terjadi karena narasi kebangsaan yang mempersatukan kita mulai memudar.

Kita seolah kehilangan imajinasi kebudayaan bersama sebagai bangsa yang satu dan hidup dalam imajinasi kebudayaan kelompok sendiri seakan tersekat serta tak terpapar pada imajinasi kebudayaan kelompok lain. Maka dari itu, pemajuan kebudayaan mesti dijalankan dengan mendobrak sekat-sekat itu serta membuat setiap kelompok sosial terpapar pada kelompok sosial lainnya. Dengan jalan pemajuan kebudayaanlah segenap kekayaan budaya tradisi dapat direvitalisasi sebagai landasan kebudayaan nasional dan modal untuk memperkuat rasa kebangsaan.

 

Pendidikan Karakter Berbasis Kebudayaan

Dalam menghadapi tantangan ketahanan budaya saat ini, sudah waktunya mendorong penguatan pendidikan karakter bangsa dengan mendasarkannya pada nilai-nilai luhur kebudayaan. Kebudayaan ditempatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan pemahaman dan penghargaan mengenai keragaman ekspresi budaya dan arti penting keragaman dalam masyarakat yang beradab. Hal ini dapat ditempuh melalui upaya memperkenalkan nilai, ekspresi, dan praktik kebudayaan tradisional ke dalam kurikulum pendidikan di satuan pendidikan.

Tak dapat dipungkiri bahwa terdapat kaitan yang erat antara kebudayaan dan karakter. Dalam keragaman ekspresinya, kebudayaan mewujud dalam suatu proses penghalusan budi pekerti. Oleh karena itu, pembentukan karakter bangsa seyogianya berjalan beriringan dengan pembentukan kebudayaan nasional yang sehat. Misalnya melalui kesenian, satu dari unsur kebudayaan yang memegang peranan pelopor dalam proses tersebut.

Dengan mendalami kekayaan ekspresi kesenian, secara tidak langsung kita juga terpapar pada nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pendidikan yang bertumpu pada kesenian sudah selayaknya menjadi bagian terdepan dari pendidikan karakter. Seni merupakan pintu masuk bagi berbagai ungkapan perasaan manusia sehingga apabila kita mendekatkan diri pada keragaman ekspresi seni itu, maka kita pun terpapar pada kekayaan alam perasaan manusia. Itulah modal awal bagi pembangunan karakter bangsa.

Pada intinya, pendidikan karakter berbasis seni dan budaya adalah mempelajari kekuatan karakter bangsa melalui peningkatan keterpaparan peserta didik pada aneka rupa ekspresi seni dan budaya. Jalan ini perlu ditempuh agar mendorong anak untuk berani merasa dan berani berpikir mandiri. Orang yang berkarakter adalah orang yang memegang prinsip dan mempertahankannya dalam berbagai situasi. Keteguhan untuk memegang prinsip itu tidak akan muncul apabila orang tersebut tidak berani merasa dan tidak berani berpikir mandiri. (MS/ABG)

 “Ketahanan budaya merupakan daya tahan suatu bangsa dalam melangsungkan kehidupan budayanya melalui interaksi yang bersifat membangun dan memperkuat dengan budaya-budaya lain”