Dari Pinggiran Merajut Budaya Nasional

Halaman : 22
Edisi 37/Oktober - 2019

Budaya Indonesia sungguh beragam. Tidak hanya yang sudah dikenal masyarakat luas bahkan dunia, tetapi juga budaya lokal yang dimiliki masyarakat dari daerah-daerah di seluruh pelosok tanah air. Begitu beragamnya budaya nasional Indonesia, maka perlu upaya pelestarian, pengelolaan, pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, termasuk “rasa memiliki” terhadap budaya itu sendiri. Tema Pekan Budaya Indonesia (PBI) 2016: “Dari Pinggiran Merajut Budaya Nasional”, berusaha menampilkan ekspresi-ekspresi budaya dan kesenian yang nyatanya kini banyak dipinggirkan.

Seni visual jalanan merupakan medium yang akrab dengan masyarakat umum. Sayangnya jenis seni kreativitas ini kurang mendapat tempat. Ia dianggap “mengganggu” karena kesan “mengotori” fasilitas umum. Padahal seni visual jalanan dapat menjadi media yang tepat untuk menyalurkan hobi, pembelajaran politik, aspirasi, dan lainnya.

Seni visual jalanan inilah yang menjadi salah satu bagian dalam Pekan Budaya Indonesia (PBI) 2016 dengan tema “Dari Pinggiran Merajut Budaya Nasional”. Ini juga merupakan kekayaan dari budaya nasional Indonesia. Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid menjelaskan, tema tersebut sesuai dengan agenda pemerintahan Presiden Joko Widodo, yaitu membangun dari pinggiran.

“Kita di sini berusaha mengumpulkan ekspresi budaya, ekspresi kesenian, yang memang nyatanya kini banyak dipinggirkan. Kalau kita lihat di televisi, misalnya, jarang sekali kita lihat pertunjukkan kesenian seperti ini. Kalau kita lihat tempat-tempat pertunjukan kurang sekali kita lihat penghargaan dan apresiasi terhadap seni tradisi semacam ini,” ungkap Hilmar.

Ia menambahkan, Direktorat Jenderal Kebudayaan fokus untuk mengangkat kembali seni dan budaya yang selama ini banyak ditinggalkan, dilupakan, diabaikan, dipinggirkan. “Dan keinginan kita adalah membawanya kembali ke tengah. Untuk itulah Pekan Budaya Indonesia ini diselenggarakan,” ujarnya.

Pekan Budaya Indonesia merupakan upaya pemerintah menjaga dan mengenalkan khasanah budaya adiluhung yang dimiliki Indonesia kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya nasional dengan rangkaian kegiatan yang menyenangkan.

PBI digelar untuk menunjukkan dan mengenalkan budaya kepada masyarakat luas. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya bangsa, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya bangsa, dan menumbuhkembangkan sikap saling menghormati dan toleransi antarsesama anak bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tema “Dari Pinggiran Merajut Budaya Nasional” diangkat karena bersinergi dengan keinginan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam kegiatan PBI 2016. Kali ini pemerintah ingin memastikan jika seluruh masyaraat bisa mengakses penuh kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Maka, pendekatan-pendekatan yang lebih personal kepada masyarakat juga diterapkan pada berbagai kegiatan, agar masyarakat tidak hanya merasa menjadi ‘penonton’, tetapi juga sebagai pelaku ‘budaya’.

Seni visual jalanan atau mural dapat menjadi media yang tepat untuk menyalurkan hobi, pembelajaran politik, aspirasi, dan lainnya. Seni mural ini dipertunjukkan dalam Pekan Budaya Indonesia yang diselenggarakan di Malang, Jawa Timur, September 2016.

Tema “dari pinggiran”, kata Hilmar, juga bukan hanya secara geografis dan sosial, tetapi juga dimaksudkan mengajak kalangan disabilitas yang seringkali tidak mendapat ruang yang cukup di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, dalam PBI kali ini, grup musik yang anggotanya adalah kalangan disabilitas menunjukkan kebolehannya berkesenian. “PBI adalah ruang bagi kita semua,” tegas Hilmar.

Selain dengan menyaksikan, masyarakat juga terlibat aktif pada kegiatan-kegiatan 1yang digelar selama PBI berlangsung. Mulai dari permainan tradisional, workshop, pameran-pameran, dan ragam kegiatan lainnya, sehingga masyarakat mendapat pengalaman seni dan budaya yang nyata.

Salah satu pameran yang ada dalam PBI 2016 mengangkat tema yang sangat penting terkait poros maritim yang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo, yaitu Pameran Jalur Rempah. Pameran ini menunjukkan bahwa sesungguhnya negeri ini terbentuk dari sambung menyambung dari masa lalu yang panjang karena adanya rempah-rempah. “Nah kita ingin membangkitkan kembali ingatan dan kesadaran mengenai sejarah yang panjang ini dan melihat kita sebagai kesatuan yang sudah lama,” tuturnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, kepribadian masyarakat ini adalah kepribadian bangsa Indonesia yang merupakan kumpulan dari puncak-puncak kebudayaan daerah, keunggulan, kearifan, dan kecerdasan lokal yang kemudian diangkat menjadi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Untuk itu, Mendikbud mengajak para budayawan dan seniman mendatangi sekolah-sekolah dan sanggar-sanggar belajar, untuk mengenalkan budaya luhur bangsa kepada siswa serta anak-anak lainnya.

"Kepribadian bangsa Indonesia merupakan kumpulan dari puncak-puncak kebudayaan daerah, keunggulan, kearifan, dan kecerdasan lokal yang kemudian diangkat menjadi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia."

Sejumlah siswa sedang menghias topeng dalam kegiatan Pekan Budaya Indonesia yang diselenggarakan di Malang, Jawa Timur, awal September 2016.

Mendikbud percaya, anak-anak yang dididik menjadi insan yang berbudaya akan menghasilkan generasi bangsa yang tahan banting, berkepribadian kuat dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Sebaliknya, jika tidak dididik udaya, maka yang akan terjadi adalah generasi yang rapuh, lembek, dan pecundang. “Dan akhirnya negara kita yang besar ini akan menjadi jajahan Negara yang lain,” tutur Mendikbud.

Penyelenggaraan PBI diharapkan menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap budaya dan memahami keberagaman budaya nasional yang merupakan “rajutan” dari khasanah budaya di setiap daerah di Indonesia. Dengan demikian masyarakat akan dapat menghargai dan menjaga diversitas budaya di Indonesia, sehingga semboyan Bhineka Tunggal Ika dapat betul-betul diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)