Festival Budaya Saman Merayakan Saman di Kampung Halamannya

Halaman : 26
Edisi 46/Agustus 2020

Bukan sekadar pertunjukkan khas Suku Gayo, Saman kini telah menjadi pertunjukkan yang dikenal dan dikagumi penonton seantero nusantara, bahkan dunia. Sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO yang Memerlukan Perlindungan Mendesak, diperlukan upaya-upaya konkret agar ekspresi budaya itu tetap lestari.

Salah satu upaya melestarikan Saman adalah melalui penyelenggaraan Festival Budaya Saman. Festival ini tidak hanya menampilkan Saman sebagai tarian belaka, tapi menelisik lebih jauh sebagai sebuah objek pemajuan kebudayaan secara menyeluruh. Para penonton dan pengunjung tidak saja dapat menikmati Saman melalui pertunjukan, tetapi juga dapat mencermati dan mempelajarinya sebagai suatu sistem budaya yang memuat berbagai nilai dan pranata, serta mencerminkan karakter dan etos masyarakat Gayo.

Festival Budaya Saman diselenggarakan melalui platform Indonesiana yang digelar di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada 2 Oktober hingga 24 November 2018. Kegiatan ini mengambil beberapa tempat di Kabupaten Gayo Lues sebagai venue utama, yakni Bale Musara, Stadion Seribu Bukit, dan beberapa menasah.

Melibatkan ratusan penampil dari 11 kampung di 11 kecamatan di Gayo Lues, Festival Budaya Saman dimaksudkan sebagai perayaan atas kelestarian ekosistem pertunjukan saman di Kabupaten Gayo Lues. Hal tersebut ditandai dengan tetap bertahannya tradisi berlatih dan mempertunjukan Saman di setiap kampung hingga hari ini, terutama pada setiap hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi.

Festival Budaya Saman mengambil tradisi Bejamu Saman sebagai materi utama kegiatan. Tradisi Bejamu Saman adalah pergelaran Saman selama dua hari dua malam (roa lo roa ingi) di mana ada dua kampung yang tampil bersama dan berbagi peran dengan bertindak sebagai tuan rumah dan tamu. Hal yang menarik dari Bejamu Saman adalah karena setiap anggota grup penampil tamu akan tinggal sebagai saudara (serinen) di rumah masing-masing anggota grup penampil tuan rumah. Persaudaraan antara dua pesaman melalui Bejamu Saman umumnya bahkan berlanjut hingga melampaui acara pertunjukan, yakni dalam kehidupan nyata, bahkan hingga ke anak-cucu mereka.

Menggali nilai-nilai kegiatan Bejamu Saman tersebut, maka dalam rangkaian Festival Budaya Saman 2018 dilaksanakan 11 pertunjukan di mana masing-masing pertunjukan digelar selama 2 hari 2 malam di 11 kampung penyelenggara. Bejamu Saman Roa Lo Roa lngi diwakili 1 kampung dari setiap kecamatan di Kabupaten Gayo Lues. Kegiatan Bejamu Saman kemudian diakhiri dengan pemilihan penampil terbaik oleh para kurator Festival Budaya Saman, yang terdiri atas para budayawan, seniman, akademisi, pemuka masyarakat serta pejabat pemerintah Gayo Lues.

Festival Budaya Saman 2018 juga menyelenggarakan rangkaian seminar, diskusi kelompok terpumpun dan pameran, yang dipusatkan di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Seminar bertema “Saman dalam Spektrum Pengetahuan” menghasilkan berbagai pemikiran yang inovatif dan solutif terkait pengembangan saman sebagai potensi budaya.

Seminar dilanjutkan dengan membukukan makalah dan artikel-artikel yang dijaring melalui Call For Paper. Melalui seminar dan Call For Paper ini, diharapkan dapat diteroka jalan menuju suatu ‘kultur riset’ dan ‘kultur kreatif’ untuk mengembangkan dan memanfaatkan saman secara lebih luas di masa yang akan datang.

Rangkaian Pembukaan FBS 2018 diteruskan dengan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT), mengambil topik “Menuju Saman Centre di Gayo Lues.” DKT ini bertujuan untuk mengadakan kajian dan pembacaan bersama atas isu-isu terkait pengembangan Saman, baik yang langsung berkaitan dengan rencana pengembangan Saman Center, maupun yang berhubungan dengan penerapan produk pertunjukan Saman secara luas di Indonesia dan dunia. DKT diikuti oleh partisipan yang terdiri atas praktisi seni, dosen dan guru seni budaya, mahasiswa, birokrat, senator, tokoh masyarakat Gayo Lues, jurnalis, penulis, serta pengamat dan peneliti seni.

Mengiringi seminar dan diskusi kelompok terpumpun, dilaksanakan Pameran Saman bertemakan “Gere Pora Saman,” yang menyajikan foto-foto Saman, buku-buku tentang Gayo, Kerawang Gayo, baju, aksesoris dan kelengkapan Saman, serta kumpulan video Saman, pada 2-5 Oktober 2018. Setelahnya, rangkaian FBS 2018 digelar di Gayo Lues, diawali dengan Workshop Gerak dan Syair Saman, 9-10 Oktober 2018. Mulai tanggal 13 Oktober, Bejamu Saman digelar secara maraton di 11 kampung, di 11 Kecamatan se-Gayo Lues.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari pertunjukan Saman, kesenian Bines juga tampil dalam Festival Budaya Saman. Tari Bines yang lazimnya digelar sebagai pasangan pertunjukan Saman, juga ditampilkan. Berkebalikan dengan Saman yang seluruh penampilnya harus laki-laki, maka seluruh penampil Bines adalah perempuan. Lazimnya, mereka akan berbaris di belakang barisan Saman, ketika pertunjukan Bejamu Saman sedang berlangsung.

Kompetisi Kerawang dan Kopi

Merespons pula peran penting kerawang, yakni tenun motif khas Gayo, yang senantiasa hadir dalam pertunjukan Saman melalui pakaian para penampil, maka dalam rangkaian Festival Budaya Saman juga dihadirkan Kompetisi Kerawang. Kompetisi Kerawang yang digelar di Blangkejeren pada 17 November 2018, diteruskan dengan Kompetisi Musik Etnik pada 21-22 November 2018. Kompetisi Musik Etnik dalam FBS 2018, dilaksanakan untuk ikut merayakan potensi musikal yang terdapat dalam pertunjukan Saman. Festival ini merupakan ajang bagi generasi muda Gayo Lues serta peserta dari daerah lainnya dalam menunjukkan kebolehannya dalam meramu potensi Musik Tradisional Gayo menjadi karya musik yang bernuansa masa kini.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari berbagai perayaan Saman di Gayo Lues, Festival Budaya Saman juga menghadirkan Kompetisi Kopi, yang menghimpun para pelaku lndustri kopi, pada 21-22 November 2018. Dan sebagai puncak, FBS 2018 ditutup dengan penampilan Saman Bale Asam, dari 11 kampung yang tampil dalam Rangkaian Bejamu Saman.

Kampung Halaman

Dengan rangkaian kegiatan yang sedemikian, Festival Budaya Saman diharapkan dapat menjadi instrumen dan efektif untuk menuju cita-cita menjadikan Gayo Lues sebagai ‘kampung halaman’ pertunjukan Saman. Keberhasilan program jangka panjang ini nantinya akan ditandai dengan berdirinya Saman Centre, yang akan berfungsi sebagai laboratorium untuk mengembangkan saman melalui kolaborasi, riset dan eksperimetasi.

Hal yang pasti, melalui Festival Budaya Saman, para pengunjung dapat menyaksikan sebuah spektrum tentang kekayaan budaya Saman. Mulai dari pertunjukan Saman klasik sebagai sebuah prototipe atau bentuk asal, yang senantiasa bisa dirujuk dan ditelusuri dalam rangka memperluas cakrawala pertunjukan, hingga berbagai garapan pertunjukan kontemporer yang mengambil inspirasi dari Saman.

Selain melibatkan para stakeholder Saman, Festival Budaya Saman 2018 pada dasarnya juga mengundang para peneliti, pendidik dan kritikus, untuk bersama-sama meneroka jalan, menjadikan Saman sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Di sisi lain, Festival Budaya Saman ke depan juga mengundang  para koreografer, untuk mengembangkan berbagai pertunjukan kontemporer dari pembacaan mereka atas budaya Saman di Gayo Lues.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid mengatakan bahwa dirinya berharap semakin banyak peneliti-peneliti dan praktisi maupun pegiat saman yang menulis dan mempublikasikan karya-karya ilmiah maupun non-ilmiah terkait saman. “Hal ini tentunya merupakan salah satu upaya untuk pelindungan dan pengembangan saman sebagai sebuah obyek pemajuan kebudayaan,” katanya.

Festival Budaya Saman merupakan satu dari 13 festival di 9 klaster yang terpilih untuk diselenggarakan dalam Platform Pemajuan Kebudayaan Indonesiana. Platfom ini merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memajukan kebudayaan sesuai Undang-undang Nomor  Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Seperti halnya Saman yang mencerminkan nilai gotong-royong, Platform Pemajuan Kebudayaan Indonesiana pun mengedepankan azas gotong royong untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan kegiatan budaya dengan berfokus pada konsolidasi standar tata kelola kegiatan budaya dan manajemen penyelenggaraan kegiatan budaya melalui dukungan atas penyelenggaraan festival-festival di daerah,” jelas Hilmar. (RAN/Tim Publikasi Indonesiana)