Festival Fulan Fehan Sabana dengan Seribu Epos

Halaman : 26
Edisi 37/Oktober - 2019

Mengawali platform Indonesiana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar sebuah perayaan budaya bernama Festival Fulan Fehan. Kegiatan ini dimulai pada 3 Juli hingga Oktober 2018 yang diawali dengan Festival Foho Rai 3-16 Juli 2018 di Kabupaten Belu, NTT. Fulan Fehan merupakan hamparan sabana yang menyimpanribuan epos yang terletak di antara dua Negara bersaudara, Indonesia dan Timor Leste.

Sebuah perayaan budaya di Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Festival Fulan Fehan digelar di lembah di kaki Gunung Lakaan. Lembah itu adalah haribaan bumi terbuka yang asri dan sejuk di Kabupaten Belu, suatu kawasan perbatasan antara Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste. Atambua, ibu kota Belu, terletak sekitar 26 kilometer dari Lembah Fulan Fehan yang keras tapi elok itu.

Pada tahun 2018 ini, Festival Fulan Fehan mengangkat khazanah seni yang bermula dari mitos asal usul manusia di kawasan tersebut, yakni “Tari Likurai”. Dalam mitologi masyarakat Belu disebutkan bahwa pada zaman dulukala, di dunia pada masa itu masih sempit, terjadi pertikaian antara manusia dengan bangsa monyet. Manusia harus berperang dengan bangsa monyet agar bisa bertahan hidup. Tentu, sang manusia berhasilmemenangkan perang.

Raja lalu memerintahkan untuk membuat upacara penyambutan bagipara pahlawan perang yang telah mengalahkan bangsa monyet. Atas perintah itu, diciptakanlah “kolo kolo, bui muk” sebagai instrumen tarian. Para wanita menggunakan kolo kolo bui muk sebagai properti tarian. Dilaksanakan di depan rumah adat, tarian kemenangan ini kemudian disebut Likurai. Sesuai perkembangan zaman, tak ada lagi peperangan, maka tarian Likurai dipentaskan dalam acara-acara resmi adat, atau misalnya penyambutan tamu di Belu.

Pada tahun2016, Kemendikbud menetapkan tarian Likurai sebagaiwarisan budaya tak benda Indonesia. Dalam masyarakat di kawasan Belu dan sekitarnya, tarian ini tak hanya menjadi wahana penyambutan kepada mereka yang telah memenangkan pertarungan, tapi juga menjadi wahana perwujudan, pemuliaan dan penyebaran ungkapan nilai-nilai kerja sama, gotong-royong, keramah-tamahan, sikap saling menghargai dan toleransi.

Sebelum tampilan akbar di Lembah Fulan Fehan, diselenggarakan Festival Foho Rai, di lima lokasi kampung adat. Rancangan Festival Foho Rai merupakan cara untuk menampilkan ekosistem penunjang Tari Likurai. Tari Likurai sebagai satuan budaya yang diangkat dalam Festival Fulan Fehan, dalam model ini dipampangkan dalam habitat muasalnya, yaitu kampung adat, disangga oleh komunitas adat.

Agenda Pendukung Festival

Sebagai pendukung kegiatan Festival Fulan Fehan diselenggarakan pula berbagai agenda mulai dari pameran dan lokakarya tenun ikat, seminar dan temu wicara, lokakarya fotografi, pemutaran film pendek, hingga peragaan busana kreasi tenun ikat.

Penghujung rangkaian festival inidigelardi Lembah Fulan Fehan pada Oktober 2018, dimana dipersembahkan sebuah Pagelaran Musikal Pesona Likurai. Dalam pergelaran tersebut, para penari Likurai berbaur, menari dan berekspresi bersama. Para penari bukan hanya dari Belu, akan tetapi juga dari Kabupaten Malaka, Timor Tengah Utara, dan Timor Leste. Sajian kolosal ini akan menjadi ajang pertemuan warga serumpun di Belu dan sekitarnya. Festival Fulan Fehan dengan “sabana seribu eposnya” diharapkan dapat menjadi cara untuk mengikat keragaman budaya setempat dan menampilkan kekayaan budaya Indonesia. (Disarikan dari tulisan Heru Hikayat, Wicaksono Adi dan Komunitas Belu/RAN)

Infografis

Sejumlahupacara ritual yang diselenggarakandalam Festival FulanFehan:

  1. RitusFohon Hare(penghantaran gabah/padi) di KampungAdatMatabesi,
  2. RitusUkun Badu(larangan atas penyalahgunaan hutan adat) di Alas LulikTurMutudanHasa’eKakaluk (permohonan kekuatan dan perlindungan supranatural) di KsadanBroatoas – KampungAdatRaimanuk
  3. RitusAn Tama(upacara berburu) di KampungAdatDuarato-Nualain
  4. RitusBeiGegeAsu(membangun rumah adat) danNokarUl(memohon restu) di KampungAdatDirun

Beragam Agenda Pendukungdalam Festival FulanFehan

  • PamerandanLokakaryaTenunIkat

Pemerandantenunikatinimenjadiajangbudayabersamaantara Indonesia dan Timor Leste yang menampilkankekayaantenunikat di wilayahBeludan Timor Leste.Lokakaryatenundiselenggarakandengantujuanuntukmenjagasirkulasipengetahuanmengenaiteknik-tekniktradisionaltenun.

  • Seminar danTemuWicara

Kegiataninidirancanguntukmenyampaikaninformasimengenai Festival FulanFehandankekayaanbudaya di Belu.

  • LokakaryaFotografi

Dirancanguntukmempertunjukankemampuan para fotograferdalammengangkatkekayaanbudayaBelu yang memilikilembahFulanFehan, sebuahbentangalam yang menarikuntukmenjadibidikan para fotografer.

  • Pemutaran Film Pendek

Film hasilkaryapilihan dari para pelajarBelubertemabudaya,ditayangkan di AtambuadanFulanFehan.

  • PeragaanBusanaKreasiTenunIkat

Kegiataninimempertemukan para perancang Indonesia dan Timor Leste, dengankaryaberbasistenunikattradisional. Kegiataninidiharapkanjugajadiajangpenampilanbakat-bakatmudaBeludalambidangperagaan.

  • PergelaranMusikalPesonaLikurai

Pergelarankolosal yangdiikutisekitar 1.500 penaridenganpenyutradaraandanpenataantarihasilkolaborasiEkoSupriyantodengantokohsenimanasalBeluseperti Rainer Koli, Pius FahikdanMarselaKlau.

SekilastentangIndonesiana

Platform kebudayaan Indonesiana adalah inisiatif baru Kemendikbud untuk mendorong dan sekaligus memperkuat upaya Pemajuan Kebudayaan sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 melalui gotong royong penguatan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam undang-undangtersebut.

Platform ini dicanangkan dengan tujuan untuk menghidupkan ekosistem objek pemajuan kebudayaan secara merata dan berkelanjutan, menguatkan identitas budaya di daerah, serta terpolanya gotong royong yang melibatkan pelaku budaya dan berbagai pemangku kepentingan lintas tingkat pemerintahan, lintas kementerian dan lembaga, dan lintas sektor dalam menyelenggarakan kegiatan budaya berstandar nasional di dalam platform Indonesiana.