Festival Janadriyah dan Diplomasi Lunak Indonesia untuk Arab Saudi Melalui Kebudayaan

Halaman : 27
Edisi 40/Oktober - 2019

Indonesia menjadi tamu kehormatan di Festival Janadriyah ke-33 di Riyadh, Arab Saudi. Festival yang berlangsung sejak 20 Desember 2018 hingga 9 Januari 2019 ini dipadati pengunjung domestik maupun mancanegara yang tertarik mengenal budaya Indonesia. Kesuksesan Indonesia di festival ini mempererat hubungan bilateral kedua negara serta antusiasme tinggi masyarakat Arab Saudi terhadap budaya Indonesia berpotensi menjadi peluang pengembangan program diplomasi budaya Indonesia di Arab Saudi.

Festival Janadriyah adalah festival budaya tahunan terbesar di Timur Tengah, yang diselenggarakan sejak 1985. Kesempatan menjadi tamu kehormatan di Festival Janadriyah merupakan pencapaian yang luar biasa, apalagi Indonesia hanya memiliki persiapan yang sangat singkat, yakni sekitar satu bulan. Festival kali ini dibuka oleh Raja Salman bin Abdul Aziz pada Kamis, 20 Desember 2018.

Indonesia ditunjuk sebagai tamu kehormatan dalam festival ini melalui Dekrit Raja Salman pada September 2018 yang merupakan keputusan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud dan Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. Sebelum Indonesia, terdapat Rusia, Prancis, Jepang, Jerman, hingga India yang pernah diberi kesempatan sebagai tamu kehormatan.

Paviliun Indonesia seluas 2.500 meter persegi di Festival Janadriyah memamerkan kekayaan budaya dan sejarah Indonesia, dengan mengangkat tema “Unity in Diversity for Strengthening Moderation and Global Peace”. Indonesia menampilkan keanekaragaman budayanya mulai dari seni batik, seni pencak silat, seni tari tradisional, seni ukir, seni membuat sketsa wajah, dan seni kaligrafi. Paviliun ini juga menampilkan Kapal Pinisi sebagai warisan budaya tak benda dunia yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, untuk menarik wisata asing berkunjung ke Indonesia, ditampilkan foto-foto tempat wisata tanah air, seperti Raja Ampat, Pulau Bali, Pulau Komodo, Danau Toba, dan lainnya. Bahkan salah satu sudut di paviliun menampilkan keindahan Raja Ampat dalam tampilan teknologi tiga dimensi. Di paviliun ini juga digelar pameran sejarah hubungan bilateral kedua negara sejak zaman Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi yang ditampilkan melalui foto-foto.

Kegiatan di Paviliun Indonesia pun beragam. Anak-anak bisa mencoba permainan tradisional Indonesia di stan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) seperti memainkan gasing, congklak, dan lainnya. Semua jenjang usia juga bisa dilukis wajahnya oleh seniman face painting dari Indonesia. Lalu bagi yang bersabar antre, bisa juga meminta wajahnya dilukis oleh seniman sketsa Indonesia. Stan lukis sketsa wajah ini menjadi salah satu stan favorit di Festival Janadriyah. Stan lain yang dipadati pengunjung adalah stan jamu dan pembuatan keramik.

Selain itu, Indonesia juga mengenalkan Batik Tulis khas Yogyakarta dan Batik Rajah dari Magelang. Di stan Batik Rajah, pengunjung bisa mendapatkan kaligrafi namanya yang dibuat dengan seni batik tulis di atas sehelai kain katun. Deena, salah seorang pengunjung yang mengantre di stan Batik Rajah tertarik dengan budaya Indonesia dan kaligrafi batik yang merupakan hasil kerajinan tangan yang indah. "Saya ingin berkunjung ke Indonesia. Insyaallah," tuturnya.

Di luar paviliun pameran, terdapat sebuah panggung pertunjukan yang menampilkan beragam kesenian Indonesia, dengan penampilan seniman Indonesia, antara lain Saman Gayo dan Tari Zapin. Selain itu, 170 siswa SILN Riyadh, Mekkah, dan Jeddah pun turut berkontribusi menjadi duta budaya di Festival Janadriyah. Mereka menampilkan pertunjukan seni antara lain Pencak Silat, Tari Kreasi Kuda Lumping, Tari Maung Lugay, Tari Badindin, dan Tari Ondel-Ondel. Bahkan mereka juga menyajikan beberapa sendratari, seperti Sendratari “Roti Island” dari Nusa Tenggara Timur, Sendratari “Mangose Padan” Asal Mula Danau Toba Sumatra Utara, dan Sendratari “Ande-ande Lumut” dari Jawa.

Pertunjukan kolosal dari siswa Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) menjadi puncak acara penutupan di panggung Indonesia. Sebanyak 75 pelajar SIR mempersembahkan sebuah sendratari gabungan dari kesenian rakyat Tari Badui dari Sleman dan Tari Angguk Kipas menjadi tari kreasi baru. Pertunjukan itu disajikan dengan luar biasa dan mendapat sambutan meriah dari pengunjung Festival Janadriyah.

Tak hanya seni, Indonesia juga menampilkan kekayaan bahasa di Paviliun Indonesia berupa produk-produk dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) antara lain Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), peta bahasa daerah, dan aplikasi Laboratorium Kebinekaan. Pengunjung juga bisa belajar bahasa Indonesia melalui permainan kata-kata, dan melihat buku-buku bacaan untuk anak, serta mengenal bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Minat warga Arab Saudi mempelajari bahasa Indonesia ternyata cukup tinggi. Hal tersebut terbukti dari banyaknya pengunjung yang mendatangi gerai Bahasa Indonesia di festival itu sejak awal digelarnya Festival Janadriyah. Hingga H-1 penutupan festival, per 8 Januari 2019, tercatat sudah 144 warga Arab Saudi yang mendaftar untuk kursus bahasa Indonesia dan menjadi peserta program BIPA di Riyadh.

Indonesia Perkuat Program Diplomasi Budaya untuk Arab Saudi  

Antusiasme tinggi masyarakat Arab Saudi terhadap budaya Indonesia di Festival Janadriyah menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan program diplomasi budaya di Arab Saudi. Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Najamuddin Ramly mengatakan, Festival Janadriyah merupakan bentuk diplomasi budaya yang sangat dahsyat bagi Indonesia, kesuksesan Indonesia sebagai tamu kehormatan Festival Janadriyah ke-33 ini menjadi sebuah pemicu untuk membuka bentuk kerja sama lain di bidang kebudayaan dengan Arab Saudi.

Di Festival Janadriyah, Indonesia membawa pertunjukan seni yang beririsan dengan kultur Islam, seperti Saman, Zapin, Gambus, hingga Wayang, yang mencerminkan bagaimana penyebaran agama Islam di Indonesia. Festival Janadriyah dinilai telah membuka pandangan masyarakat Arab Saudi tentang Indonesia, yang selama ini lebih mereka kenal sebagai negara penyedia tenaga kerja. Festival Janadriyah pun menjadi batu loncatan (stepping stone) bagi Indonesia untuk meningkatkan kerja sama di bidang kebudayaan dengan Arab Saudi.

Di sela-sela penyelenggaraan Festival Janadriyah, delegasi Indonesia berkunjung ke Museum Nasional King Abdul Aziz dan muncul ide untuk merencanakan agar seluruh museum di Arab Saudi bisa menggelar pameran dan seminar sejarah tentang risalah islam datang ke Indonesia, dengan berbagai macam budaya yang mengiringinya. Nantinya pameran akan difokuskan pada sejarah dan diskusi tentang hubungan Indonesia dengan Arab Saudi sejak dulu hingga sekarang. Kemendikbud juga telah menerima permintaan dari otoritas pengelola Kota Madinah dan Mekkah agar mereka bisa mengadakan pameran di masjid-masjid raya di Indonesia.

Sementara dari sisi literasi, akan dilakukan program penerjemahan buku ke dalam bahasa Arab. Saat ini Direktorat Sejarah Kemendikbud telah menerbitkan buku tentang sejarah Islam yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Inggris. Rencananya, kegiatan alih bahasa tersebut akan dilakukan bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia di Riyadh. (DES)