International Gamelan Festival 2018 Mudik Gamelan: Momentum Silaturahim Kelompok Gamelan Dunia

Halaman : 26
Edisi 41/Desember - 2019

Melalui platform Indonesiana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Pemerintah Kota Surakarta, pada Agustus 2018 menggelar festival internasional gamelan dengan tajuk “Gamelan Culture: Home Coming Gamelan”. Festival yang bertujuan menciptakan semacam arena mudik bagi kelompok-kelompok gamelan yang telah berdiaspora di berbagai belahan dunia ini juga mewartakan spirit gamelan sebagai cara pandang dunia yang harmonis dan toleran.

Gamelan merupakan salah satu jenis seni musik paling kuno yang masih hidup dan berpengaruh luas hingga kini. Musik ini diduga telah ada dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa lebih dari seribu tahun lalu. Bentuk kesenian itu juga terus diwariskan dari generasi ke generasi serta mampu menunjukkan daya hidupnya yang melampaui daya hidup negeri di mana gamelan itu berada.

Sebagai sistem musik, gamelan mengalami penyebaran secara geografis, berinteraksi dengan lingkungan setempat, mengalami penyesuaian dan melahirkan variasi-variasi dari sisi bentuk serta fungsi dan posisi dalam masyarakatnya. Sudah sejak berabad-abad yang lampau, gamelan menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara bahkan berbagai belahan dunia, menemukan tempat-tempat hidupnya yang  baru, diapropriasi oleh beragam masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan suatu komunitas (diaspora) serta mengalami perjumpaan dengan berbagai kultur di dunia (interkoneksi).

Exposition Uneverselle 1889 menjadi momentum  penting dalam persebaran gamelan di dunia internasional. Pameran di Paris, Perancis itu jadi titik awal musik gamelan dikenal yang selanjutnya menyebar ke Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Munculnya kelompok-kelompok dan pengajaran gamelan di dunia internasional membawa serta penyebaran kultur dan peradaban yang menjadi spirit atau jiwa dari gamelan itu sendiri.

Layaknya manusia yang telah bertahun-tahun melakukan pengembaraan, penting untuk sesekali pulang kembali ke tempat asal muasalnya. Peristiwa mudik kultural itu diharapkan menjadi momentum silaturahmi dan ziarah kultural untuk kembali membangkitkan dan merawat ingatan-ingatan, menumbuhkan rasa bangga, mengkonstruksi kembali identitas, dan merajut angan-angan tentang masa depan serta mewartakan semangat gamelan sebagai pandang dunia yang harmonis, toleran, dan setara melalui cara-cara yang estetis bagi kehidupan di masa depan.

Festival yang berlangsung di Kota Surakarta, Jawa Tengah ini digelar dengan berbagai macam kegiatan. Mulai dari upacara pembukaan, pergelaran di situs istana, pergelaran dan lokakarya di situs-situs rakyat, pergelaran konser utama yang meliputi pergelaran konser keberagaman gamelan, konferensi internasional, hingga pameran beragam koleksi terkait gamelan.

Upacara pembukaan dimulai dengan pergelaran komposisi karawitan yang dimainkan oleh kurang lebih 30 kelompok gamelan dari kelurahan-kelurahan di Kota Surakarta secara serentak. Sesudah itu digelar karya komposisi karawitan hasil kolaborasi beberapa komponis yang tumbuh dalam tradisi gamelan yang kemudian mencapai puncak penjelajahan artistik melalui  penemuan, pembaharuan, dan penciptaan karya dalam dunia karawitan.

Mereka adalah komponis-komponis beberapa daerah yang telah melahirkan karya yang dianggap spektakuler. Bagian pergelaran ini dimaksudkan untuk membangun suasana sekaligus sebagai semacam epigraf dari keseluruhan festival yang memperlihatkan tingkat pencapaian dan arah perkembangan kultur gamelan.

Pergelaran di Situs Istana 

Istana menjadi salah satu ruang tumbuh-kembang, proses penghalusan, dan pencanggihan tradisi gamelan. Di istana, gamelan bertumbuh bukan sekadar sebagai sistem musikal, melainkan juga menyatu menjadi media eskpresi dari nilai-nilai dan filosofi, bahkan membungkus sekaligus menghaluskan strategi dan perilaku politik, mengalihkan hasrat konflik, dan sebagainya.

Court site performance akan mempergelarkan dan memamerkan karya-karya, koleksi gamelan dan dokumentasi untuk mengekspos istana sebagai salah satu situs pertumbuhan dan sumber terpenting kultur gamelan. Pergelaran gamelan di istana terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu: (1) Pergelaran kultur gamelan dari berbagai istana yang digelar di salah satu istana di Surakarta; (2) Pergelaran kultur gamelan di berbagai wilayah, seperti Kasultanan Bima (Puri Karangasem Bali, Kerajaan Sumbawa), Kasepuhan Cirebon (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, Surosowan Banten, Sumedang Larang), Istana Sumenep (Malang, Mojokerto, Jombang, Jember, Banyuwangi, Bangkalan, Pamekasan) dan Kerajaan Gowa (Kasultanan Kutai Kertanegara, Kasultanan Banjar, Kasultanan Landak, Kasultanan Buton) yang dilakukan di istana/pusat pertumbuhan setempat.

Pergelaran dan Lokakarya di Situs-situs Rakyat

Gamelan hidup di luar istana menjadi bagian dari keseharian di banyak komunitas. Bunyi gamelan hadir mengisi ruang suara sehari-hari dan peristiwa-peristiwa khusus, menjadi bagian dari pertunjukan hiburan rakyat, menjadi unsur yang menandai upacara, menjadi profesi untuk gantungan hidup, menjadi simbol kelas sosial, disakralkan dan menjadi barang berharga.

Pergelaran gamelan—yang mempertemukan berbagai kelompok setempat dengan kelompok-kelompok dari tempat yang jauh, bahkan manca negara—dan kunjungan ke sentra-sentra produksi instrumen di tempat hidupnya, akan menjadi arena interaksi kultural yang merangsang daya hidup dan membuka peluang tumbuhnya ekonomi secara lebih luas. Pergelaran di bagian ini diadakan di kelurahan-kelurahan di Kota Surakarta dan di daerah-daerah yang merupakan lokus di mana gamelan berkembang dan menemukan gaya atau bentuk yang khas, seperti Solo Raya (Sragen, Boyolali, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo), Blora, Banyumas, dan sejumlah daerah lainnya.

Pergelaran Konser Utama

Konser utama ingin menunjukkan pencapaian tertinggi yang telah diraih oleh seniman-seniaman yang bisa dikategorikan sebagai maestro (empu) gamelan dari berbagai penjuru tanah air dan manca negara. Mereka menampilkan karya-karya master piece ciptaan sendiri ataupun membawakan karya maestro lain.

Selain itu diselenggarakan pula sebuah konferensi internasional dengan tema “Gamelan Culture: Root, Praxis and World View” yang menghadirkan para ahli dan peneliti gamelan, antara lain Marc Perlman, Henry Spiller, Anderson Sutton, Marc Benamou, Benjamin Brinner, Alan Feinstein, Alex Roth, Neil Sorrel, Mathew Issac Cohen, James Siegel, John Pamberton, Nancy Florida, Greg Acciacoli, Ariel Heryanto, Amrih Widodo, Peter Carey, Barbara Hartley, Jan Mrazek, Jennifer Lindsay, dan Lono Simatupang.

Festival gamelan internasional ini juga dimanfaatkan untuk merangkum dan mendesiminasikan pengetahuan mengenai kultur gamelan, akan diterbitkan sejumlah buku tentang biografi dan pemikiran beberapa orang empu, notasi gending-gending langka/kuno, serta hasil riset mengenai gamelan.

Selama penyelenggaraan festival digelar pula pameran yang memamerkan koleksi album rekaman (audio atau audio visual), foto-foto, buku-buku, instrumen-instrumen gamelan istimewa, instalasi gamelan, notasi, kostum, dan bentuk-bentuk dokumentasi lainnya untuk memperlihatkan mengenai bagaimana praktis gamelan di berbagai tempat dan masa, bahkan juga berbagai disiplin kesenian, telah mewujud sebagai kultur. (Tim Humas dan Publikasi Festival IGF 2018/RAN/ABG)