Kebudayaan Nasional Indonesia Menjadi Bintang Europalia 2017

Halaman : 26
Edisi 41/Desember - 2019

Kebudayaan nasional Indonesia menjadi bintang dalam festival seni dan budaya Europalia tahun 2017. Setelah melalui seleksi, Indonesia terpilih sebagai negara tamu di festival seni budaya Europalia yang ke – 26. Indonesia terpilih menjadi negara keempat di Asia setelah Jepang (1989), Cina (2009), dan India (2013).

Leopold Louis Marie dan Ratu Mathilde serta dihadiri Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Jusuf Kalla mengatakan bahwa keterlibatan Indonesia dalam Festival Seni Budaya Europalia akan memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang kaya seni dan budaya serta keragaman Bahasa dan adat istiadat.

Festival seni yang berlangsung selama empat bulan, mulai 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018. Dalam kegiatan tersebut Indonesia mengangkat tema “Heritage, Contemporary, Creation, and Exchange”. Sebagai negara tamu, Indonesia membawa agenda sebanyak 247 karya dan program kegiatan, antara lain 20 pameran, 71 pertunjukan tari dan teater, 95 pertunjukan musik, apresiasi 34 karya sastra, pemutaran 18 film, dan 9 konferensi.

Di bidang seni pertunjukan, Indonesia menghadirkan seniman tari dan seni pertunjukan seperti Darlene Litaay, Eko Supriyanto, Fitri Setyaningsih dan sebagainya. Selain pertunjukan seni tari, musik, dan teater tetapi juga akan memamerkan berbagai artefak yang menggambarkan sejarah kebudayaan Indonesia. Kurang lebih ada 400 artefak yang dipinjam dari Museum Nasional, museum di daerah, hingga koleksi

pribadi. Selain itu juga memamerkan arsip dan karya seni rupa di dalam pameran “Power and Other Things”.

Pameran “Power and Other Things”  berlangsung pada tanggal 17 Oktober sampai 21 Januari 2018 di Galeri Seni Bozar, Brussels, Belgia. Dalam pameran ini, Indonesia menampilkan seni rupa mulai dari periode 1835 hingga sekarang dengan menghadirkan 21 perupa Indonesia salah satunya Raden Saleh.

Menurut Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadjamuddin Ramly mengatakan bahwa pameran “Power and Other Things” sebagai rangkaian Festival Seni Europalia mejadi penting untuk menampilkan karya para perupa Indonesia mulai dari modern hingga kontemporer. Menurutnya, isu yang diangkat menarik, yakni bagaimana perupa Indonesia baik yang modern maupun kontemporer memiliki porsi tawarnya masing-masing terhadap kolonialisme.

Pameran “Ancestors and Rituals” diselenggarakan di Bozar dengan menampilkan aneka artefak  yang berasal dari zaman pra-sejarah; HinduBudha; dan Islam, kolonialisme dan kemerdekaan. Sedangkan pameran “Archipel” Indonesia menampilkan kebesaran budaya maritim yang diselenggarakan di La Boverie, Liege, Belgia. Pameran ini mencerminkan gugusan Nusantara yang disatukan oleh lautan, hubungan antarpulau terwujud dalam berbagai teknologi perkapalan, pengetahuan navigasi, serta aneka ragam tradisinya.

Dalam pameran “Archipel” Indonesia mempertunjukan kemegahan maritimnya melalui kapal pinisi sepanjang 12 meter terpajang di ruang pamer Museum La Boverie, Liege. Menurut Nadjamudin Ramly, dengan hal tersebut Ia berharap pinisi dapat terus lestari karena pinisi merupakan warisan budaya negeri ini yang perlu dilestarikan.

Tidak hanya itu, film karya anak bangsa juga diputar selama festival Europalia salah satunya film yang bertema perempuan seperti Perempuan Punya Cerita (Chants of Lotus). Selain itu komik karya Sheila Rooswita dan mural karya Yudha Sandy turut memeriahkan festival seni tersebut.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dengan mengikuti Festival Europalia menjadi ajang bagi bangsa Indonesia untuk menunjukkan kekayaan budayanya meskipun diplomasi budaya kita sudah cukup berhasil.

“Keterlibatan Indonesia merupakan kesempatan baik untuk menyatakan kepada dunia tentang potensi Indonesia, termasuk kekuatan untuk hidup dalam keberagaman,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid. Hilmar menambahkan penyelenggaraan Europalia menargetkan tiga aspek kesuksesan, yakni sukses penyelenggaraan, promosi dan perolehan/manfaat. Menurutnya, keterlibatan Indonesia diharapkan memperkuat kembali kerja sama antara Indonesia dan berbagai pihak. (*)