Kekayaan Cagar Budaya Bawah Air

Halaman : 26
Edisi 46/Agustus 2020

Sebagai negara bahari, aktivitas perdagangan melalui jalur laut menjadi kekuatan perekonomian Indonesia di masa lalu. Padatnya jalur pelayaran memungkinkan terjadinya kapal tenggelam dengan berbagai macam faktor, seperti badai, perang, kelalaian awak kapal. Peninggalan kapal karam itu menjadi bentuk peninggalan cagar budaya di Indonesia.

Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Berdasarkan wilayahnya, kapal-kapal karam dikategorikan ke dalam Cagar Budaya Bawah Air (CBBA). Konvensi The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisikan Cagar Budaya Bawah Air sebagai jejak-jejak manusia yang bercirikan budaya, historis, ataupun arkeologis yang sebagian atau keseluruhan telah berada di bawah air secara periodis ataupun terus menerus minimal selama 100 tahun. Sehingga, terdapat tiga jenis peninggalan bawah air, yaitu pertama situs, struktur, artefak, dan sisa-sisa manusia bersama dengan konteks arkeologis dan lingkungannya. Kedua, kapal, pesawat terbang, atau kendaraan lainnya bersama dengan muatannya dalam konteks arkeologis dan lingkungannya. Ketiga, benda-benda prasejarah. Sehingga, pipa, kabel, dan instansi lainnya yang diletakkan di dasar laut tidak termasuk ke dalam jenis peninggalan bawah air.

Mengapa Perairan Indonesia Menarik?

Negara kepulauan terbesar di dunia

  • luas daratan sebesar 1.922.570 km²,
  • luas perairan sebesar 3.257.483 km²,
  • 508 pulau, dan 81.000 km garis pantai.

Lokasinya yang strategis

  • Diapit dua benua, yaitu Benua Asia dan Australia, serta dua samudera, mencakup Samudera India dan Samudera Pasifik.

Hasil Survei dan Pemetaan Situs CBBA

Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendata dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2015, sebanyak 47 lokasi situs CBBA.

2006

  • Kapal Cina di Selayar, Sulawesi Selatan, 21 m.
  • Kapal Jepang (perang) di Barang Lompo, Sulawesi Selatan, 32 m.

2007

  • Kapal besi (perang) di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 22-28 m.

2008

  • Kapal VOC (kargo) di Sagori, Buton, Sulawesi Tenggara, 7 m.

2009

  • Kapal besi di Perairan Pulau Nangka, Bangka Belitung, 28 m
  • Kapal kargo “Aquila” di Wayame, Teluk Ambon, Ambon, 17-35 m
  • Kapal perang “Mawali” di Selat Lembe, Bitung, Sulawesi Utara, 20-28 m
  • Kapal perang “Tosimaru” di Halmahera Utara, Maluku Utara, 3 - 7 m
  • Kapal besi di Tidore, Maluku Utara, 50 m

2010

  • Persebaran keramik di Perairan Pulau Genting, Karimunjawa, 2 m
  • Kapal besi di Perairan Seruni, Karimunjawa, 10 m.
  • Kapal kargo “Indonor” di Perairan Kemojan, Karimunjawa, 10 m
  • Kapal kayu (kargo) di Perairan Pulau Parang, Karimunjawa, 34-38 m
  • Kapal besi (kargo) di Perairan Kumbang, Karimunjawa, 2-13 m
  • Kapal besi di Per. Taka Menyawakan, Karimunjawa, 3-9 m
  • Kapal kayu (kargo) di Perairan Geleang, Karimunjawa, 48 m
  • Kapal kayu (kargo) di Perairan Menjangan Kecil, Karimunjawa, 28-30 m

CBBA MENJADI KOLEKSI NEGARA

Sebanyak 2.214 Cagar Budaya Bawah Air (CBBA) telah ditetapkan sebagai koleksi negara. Cagar budaya itu disimpan di dua tempat, yaitu Kantor Kemendikbud, Senayan dan di Museum Galeri Nasional, Jakarta. Untuk pengembangan CBBA, Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan memiliki Pusat Pengembangan CBBA di Makassar, Sulawesi Selatan. Pusat ini merupakan rintisan pengembangan cagar budaya bawah air di kawasan Asia Tenggara.

2011

  • Pesawat tempur di Pulau Meti, Halmehara Utara, Maluku, 34 meter
  • Kapal besi “Hawaimaru” di Teluk Kao, Halmehara Utara, Maluku, 6-10 meter
  • Kapal besi “Kawaimaru” di Teluk Kao, Halmehara Utara, Maluku, 6-12 meter
  • Komponen kapal besi di Pulau Solsol, Halmehara Utara, Maluku, 5 meter
  • Kapal besi “Barnabas” di Pulau Wangeotak, Halmehara Utara, 6 – 12 meter
  • Kapal besi di Pulau Sebira, Kep. Seribu, DKI Jakarta, 37 meter
  • Kapal besi di Pulau Tidung, Kep. Seribu, DKI Jakarta, 43 meter
  • Kapal kayu di Pulau Belanda, Kep. Seribu, DKI Jakarta, 40 meter
  • Kapal besi di Gosong Congkak, Kep. Seribu, DKI Jakarta, 30 meter
  • Kapal besi “Tabularasa” di Pulau Pramuka, Kep. Seribu, DKI Jakarta, 38 meter
  • Kapal besi di Pulau Papatheo, Kep. Seribu, DKI Jakarta, 15 – 30 meter
  • Kapal besi di Pulau Kumbang, Kep. Karimunjawa, 12.5 meter
  • Kapal kayu “mati 1” di Batu Lawang, Kep. Karimun Jawa, 53 meter
  • Kapal kayu “mati 2” di Batu Lawang, Kep. Karimunjawa, 53 meter
  • Fragmen besi di Pulau Nyamuk, Kep. Karimunjawa, 3 – 4 meter
  • Kapal kayu di Pulau Parang, Kep. Karimunjawa, 28 meter

2012

  • Mobil jeep di Pulau Kapa-kapa, Morotai, 4 meter
  • Pesawat terbang di Pulau Sumsum, Morotai, 1 – 6 meter
  • Kapal besi di Boho-boho, Morotai, 30 – 48 meter
  • Kendaraan perang, Boho-boho, Morotai, 6 – 10 meter
  • Pesawat tempur, Wawama, Morotai, 25 – 48 meter
  • Kapal barang di Karang Batu, Kep. Bintan, Riau, 15 – 38 meter
  • Pesawat tempur B 24 di Togean, Sulawesi Tengah, 14 – 22 meter

2014

  • Sebaran keramik di Natuna, Kep. Riau, 17 meter
  • Kapal perang “Perth” di Serang, Banten, 17 – 22 meter
  • Sebaran keramik di Bintan, Kep. Riau, 23 meter

2015

  • Sebaran keramik di Natuna, Kep Riau (2), 18 meter
  • Sebaran keramik, di Bintan, Kep. Riau (2), 23 meter
  • Sebaran keramik, di Belitung, 3-17 meter
  • Pesawat tempur B 24, Togean, Sulawesi Tengah (2), 14-22 meter