Literasi Sejarah untuk Indonesia Berkarakter

Halaman : 26
Edisi 40/Oktober - 2019

“Bangsa yang besar adalah bahasa yang menghargai sejarah”. Ungkapan ini seringkali kita dengar untuk membangkitkan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Memori yang bersejarah diharapkan mampu memicu semangat nasionalisme generasi penerus dengan pengetahuan sejarah masa lalu. Melalui sejarah itu pula, kaum muda diajak melewati dimensi waktu, untuk mengenal, belajar, dan meresapi nilai-nilai yang tersirat dari cerita masa lampau, sebagai bekal dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Berangkat dari semangat itulah, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Gerakan Melek Sejarah (Gemes). Gerakan Melek Sejarah adalah sebuah program terencana yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang terjaga dan sadar akan pentingnya nilai-nilai sejarah Indonesia.

Kegiatan ini berangkat dari kondisi zaman saat ini yang bukan mustahil nilai-nilai sejarah dapat tergerus dampak negatif globalisasi. Oleh karena itu, Kemendikbud mengusung kegiatan ini pada pada 28 sampai dengan 31 Maret 2019, sebagai jembatan interaksi antara kaum milenial dengan sejarah bangsanya di masa lalu.

 Dengan melek sejarah, diharapkan di kemudian hari generasi muda bangsa tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas saja, namun juga memiliki karakter luhur yang berakar pada nilai-nilai keindonesiaan. Gerakan Melek Sejarah (Gemes) diimplementasikan dalam serangkaian kegiatan yang dilaksanakan di Kota Magelang, dan meliputi penyelenggaraan teater tari “Aku Diponegoro”, bedah buku, pameran literasi kesejarahan serta nonton bareng film bersejarah.

Teater Tari “Aku Diponegoro”

Museum Pengabdian Pangeran Diponegoro menjadi saksi dimulainya rangkaian kegiatan Gemes di Kota Magelang. Acara yang dilaksanakan pada 28 Maret 2019 menampilkan pergelaran teater tari “Aku Diponegoro”. Pergelaran tari yang melibatkan sekitar 70 seniman tari, 17 musisi dan 50 pemeran pendukung dari masyarakat Magelang ini bertujuan untuk merefleksikan semangat juang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung pada 1825-1830. Djarot Budi Darsono (ISI Solo) selaku sutradara menafsirkan kisah perjalanan Pangeran Diponegoro dan perjuangannya secara koreografis, merujuk pada naskah Babad Diponegoro versi Ngayogyakarta.

Lewat pergelaran yang naskahnya ditulis oleh Landung Simatupang dan tata musik oleh Danis Sugiyanto itu, penonton bercengkrama dengan suasana yang terjadi 189 tahun silam. Kala itu di Kantor Eks Residen Kedu, Perang Jawa (Java Oorlog) 1825-1830 berakhir, ditandai dengan penangkapan Pangeran Diponegoro (Raden Mas Antawiryo). Perjuangan melawan kolonialisme di Tanah Jawa oleh Pangeran Diponegoro berakhir pada 28 Maret 1830, sesaat setelah undangan perundingan damai yang dilakukan Panglima perang Hindia-Belanda Jenderal Hendrik Makrus De Kock dicederai oleh pihak Belanda sendiri.

Alih-alih mengadakan perundingan damai, Belanda justru memanfaatkan nilai luhur jiwa ksatria yang dipegang teguh oleh Pangeran Diponegoro untuk melakukan tipu muslihat. Peristiwa yang berlangsung tanggal 28 Maret 1830 yang menjadi dasar pemikiran bagi Direktorat Sejarah untuk menyelenggarakan pergelaran ini tepat pada tanggal kejadian.

Pameran Literasi Sejarah

Bertempat di Museum Badan Pemeriksa Keuangan Wakil Waikota Magelang, Windarti Agustina didampingi Direktur Sejarah, Triana Wulandari dan Mantan Mendikbud, Wardiman Djojonegoro membuka secara resmi Pameran Literasi Kesejarahan yang berlangsung pada tanggal 29 Maret 2019 lalu. Pameran ini menampilkan berbagai karya Direktorat Sejarah dalam bentuk tercetak serta media baru lainnya sebagai alternatif pembelajaran sejarah seperti, komik, buku audio, aplikasi atlas sejarah, kronik peta Perang Diponegoro, dan video pendek inspiratif. Berbagai unsur yang turut hadir meramaikan pameran di antaranya dosen, mahasiswa, guru, siswa-siswi SMA/SMK/MA/sederajat dan komunitas.

Pameran yang berlangsung selama empat hari tersebut terbagi ke dalam tiga zona. Zona pertama menampilkan 68 buku dan terbitan berkala dari Direktorat Sejarah sejak 2015 hingga 2018. Sementara bagian kedua adalah zona aktivitas. Di sini pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas seperti menonton film pendek inspiratif, menjalankan aplikasi atlas, hingga berbagi pesan dan kesan terhadap acara yang berlangsung. Adapun bagian ketiga adalah zona Pangeran Diponegoro yang menampilkan video pendek karikatur Perang Jawa (1825-1830), atlas interakif Perang Jawa, serta kumpulan lukisan Pangeran Diponegoro.

Bedah Buku

Selang sehari dibukanya pameran, berlangsung kegiatan bedah buku yang berjudul “Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa” karya Professor Peter Carey. Tampil sebagai pembahas, Mikke Susanto(ISI Yogyakarta) dan Ki Roni Sodewo(Patra Padi : Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro), dengan moderator Agus Suwignyo dari Departemen Sejarah, FIB, UGM.

Menariknya, isi buku yang dibahas, bersumber dari Babad Kedung Kebo yang ditulis oleh Adipati Cokronegoro I yang merupakan musuh bebuyutan Pangeran Diponegoro. Peter Carey mengatakan, Pangeran Diponegoro adalah seorang mistikus, penggiat tarekat Syatariyah, yang memiliki kepekaan firasat yang mungkin sulit dipahami oleh kebanyakan orang saat ini. Hal ini sekaligus menjawab spekulasi kebanyakan orang tentang Pangeran Diponegoro yang dianggap menganut Islam fundamental. Pernyataan penulis menguatkan bahwa Diponegoro adalah seorang Islam sufi yang kuat.

Dari sudut pandang yang berbeda, Mikke Susanto dalam pemaparannya memberikan perbandingan karya lukis Diponegoro. Menurutnya, Diponegoro selalu menarik untuk dikaji karena tidak ditemukan satupun foto diri beliau, yang ada hanyalah sketsa yang dibuat saat Diponegoro diasingkan di Batavia.

Menurut Mikke, hingga kini Diponegoro selalu digambarkan mengenakan surban di kepala. Ia melihat terdapat stereotypedalam menggambarkan Diponegoro. Menurutnya, sebaiknya lukisan-lukisan tentang Diponegoro yang ada sampai saat ini tidak dianggap sebagai sosok yang sebenar-benarnya. Karena bagaimanapun lukisan merupakan sebuah tafsir yang sangat mungkin terpengaruh dari berbagai aspek di sekitar perupa.

Ki Roni Sodewo memberikan pemaparan yang tidak kalah menarik. Sebagai pembaca babad yang tekun, ia begitu memahami kisah eyang buyutnya. Menurutnya ada kekeliruan tafsir mengenai tempat dijebaknya Pangeran Diponegoro, yang kini menjadi Museum Pengabadian Pangeran Diponegoro di eks Karesidenan Kedu.

Ia mengatakan bahwa dialog yang dilakukan antara De Kock dan Diponegoro tidak dilakukan pada tempat duduk yang terpisah seperti tata letak kursi yang kini ada di Museum. Diskusi antara keduanya justru dilakukan di kursi panjang, saat itu Diponegoro menarik tangan De Kock untuk duduk bersamanya. Menurutnya hal seperti ini harus kita rekonstruksi ulang berdasarkan sumber-sumber yang kredibel.

Nonton Bareng Moonrise Over Egypt

Kegiatan nonton bareng pada kesempatan ini mengangkat film yang berjudul Moonrise Over Egypt. Bercerita tentang empat utusan diplomatik Indonesia yang mengupayakan terbitnya pengakuan de jure atas kedaulatan Indonesia dari pemerintah Mesir. Mereka adalah Haji Agus Salim, Abdurrachman Baswedan, Mohammad Rasjidi serta Nazir Datuk Sutan Pamuntjak.

Meskipun Duta Besar Belanda untuk Mesir, Willem Van Recteren Limpurg, melancarkan serangkaian siasat penggagalan yang melibatkan Duta Besar Keliling Belanda bernama Cornelis Adriaanse untuk menggertak Pemerintah Mesir jika mengakui kedaulatan Indonesia, saat itu Agus Salim dan kawan-kawan tak gentar. Tak sampai di situ, ia juga harus menghadapi situasi genting ketika bertiup kabar buruk dari tanah air, tentang pergerakan pasukan NICA yang mengepung wilayah yang tersisa dari Republik Indonesia. Film yang juga tayang di bioskop pada 22 Maret 2018 lalu itu menghadirkan semangat juang dan patriotisme di kalangan generasi muda pada era setelah kemerdekaan di tengah berbagai tantangan yang menguji kedaulatan bangsa.

Pelestarian nilai sejarah tentu tidak hanya terhenti sampai di sini. Kegiatan ni hanya salah satu cara bagi generasi muda untuk mengenal sejarahnya sebagai bekal untuk menapaki masa depan. Dengan mengenal pribadi dan perjuangan mereka, diharapkan semakin berkobar semangat dalam mempertahankan dan memperjuangkan kejayaan bangsa Indonesia di masa mendatang. Sebab, perjuangan berlangsung terus dan semangat tak boleh putus. (DLa)