Pekan Kebudayaan Nasional 2019 Ruang Keberagaman Ekspresi Budaya Tradisional Hingga Modern

Halaman : 26
Edisi 37/Oktober - 2019

Terciptanya sebuah ruang interaksi bersama antarmasyarakat dari berbagai unsur kebudayaan menjadi oasis di tengah kondisi bangsa Indonesia terkini. Melalui semangat Ruang Bersama “Indonesia Bahagia”, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) yang diselenggarakan di Istora Senayan dan Parkir Selatan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, 7 sampai dengan 13 Oktober 2019.

Selama perhelatan PKN, Istora Senayan dan Parkir Selatan GBK disulap menjadi area dengan nuansa kebudayaan nusantara dan terbagi dalam sembilan area utama sesuai peruntukannya masing-masing, yakni area kuliner, panggung Kaebauk, panggung utama, panggung guyub, area konferensi, bazaar dan mural, area kompetisi permainan tradisional, dan panggung Siger.

Aktivitas utama yang digelar meliputi kompetisi daerah, kompetisi seni khas dari setiap provinsi di Indonesia, kompetisi nasional, kompetisi permainan tradisional yang dilaksanakan secara berjenjang, dari desa hingga ibukota, Konferensi Pemajuan Kebudayaan, ruang pencerahan publik yang bertujuan untuk mempersiapkan perencanaan pembangunan berbasis kebudayaan, ekshibisi kebudayaan, pameran artefak-artefak kebudayaan dan purwarupa teknologi pemajuan kebudayaan hasil inovasi dari Kemah Budaya Kaum Muda, serta karya-karya unggulan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Tidak ketinggalan, karya budaya bangsa pun ditampilkan di PKN. Beberapa pergelaran seni yang ditampilkan meliputi defile tarian tradisional, koreografi bela diri, hingga rampak perkusi nusantara. Parade seni nusantara ini menggalang partisipasi dari pelaku budaya se-Indonesia. Para pelaku budaya merupakan utusan 34 provinsi yang terdiri dari seniman tradisi dan kultur urban.

Artis, seniman, dan tokoh yang terlibat dalam PKN, antara lain Didik Ninik Thowok, Rahayu Supanggah, Ki Manteb Sudharsono, Najwa Shihab, Cak Lontong, Didi Kempot, Barasuara, Jason Ranti, Navicula, Danilla Riyadi, Kunto Aji, NDX AKA, dan Ras Muhamad. Total ada seratus delapan pertunjukan digelar selama PKN berlangsung.

Pengunjung PKN dapat mengambil bagian dalam Kompetisi Permainan Tradisional, Passanggiri, di Parkir Selatan GBK. Kompetisi permainan rakyat digelar berbasis pada objek Pemajuan Kebudayaan dari daerah hingga pusat dan berfokus pada kesederhanaan peralatan serta fasilitas.

Pengunjung PKN tidak hanya dapat menikmati berbagai pertunjukan yang ada, namun juga mengambil bagian dalam Kompetisi Permainan Tradisional, Passanggiri, di Parkir Selatan GBK. Kompetisi permainan rakyat digelar berbasis pada objek Pemajuan Kebudayaan dari daerah hingga pusat dan berfokus pada kesederhanaan peralatan serta fasilitas. Permainan yang digelar yakni Gobak Sodor, Terompah Panjang, Egrang, dan Lari Balok. Melalui kompetisi permainan tradisional ini diharapkan masyarakat kembali melirik dan tertarik untuk melestarikan permainan rakyat tersebut. 

Tidak kalah menarik dari PKN adalah keberadaan pameran yang menampilkan kekayaan budaya dari 34 provinsi,  Wastra Nusantara, Warisan Budaya Takbenda, Warisan Dunia, Kultur Perkayuan, Capaian Pemajuan Kebudayaan Seni Rupa, Empat Desa Percontohan Pemajuan Kebudayaan, dan Wayang Daun. Pameran dikemas dengan platform terbuka sehingga mampu mengakomodasi seluruh capaian artistik dari para peserta pameran. Untuk itu, Direktorat Kebudayaan melibatkan seniman rupa, Alit Ambara sebagai kurator artistik PKN.

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari PKN, diselenggarakan pula International Forum for The Advancement of Culture (IFAC), yang berlangsung pada 10 sampai dengan 13 Oktober 2019. IFAC merupakan forum internasional yang bersifat people-to-people dalam memperkuat upaya global untuk mengarusutamakan kebudayaan dengan penekanan khusus pada dampak kebudayaan terhadap kebahagiaan (well-being).

Konferensi perdana IFAC terdiri dari dua sesi pembicara inspiratif, gelar wicara dan diskusi panel yang bertujuan untuk memeriksa praktik baik di berbagai negeri di dunia, memetakan para aktor dan pemangku kepentingan, serta menciptakan agenda bersama dan rencana kerja untuk lima tahun mendatang.

Selain IFAC, berbagai konferensi dengan topik menarik pun digelar setiap hari selama PKN berlangsung, yakni konferensi Pengetahuan Tradisional, Florikultura, Ekonomi Budaya, Asal-usul DNA, Ekologi, Ento Astronomi, Etno Botani, dan Ketahanan Pangan.

Dimulainya Pekan Kebudayaan Nasional ditandai dengan Pawai Budaya “Parade Digdaya Nusantara” yang dikomandani oleh koreografer ternama Indonesia, Denny Malik. Pawai budaya diikuti sepuluh ribu peserta yang terdiri dari 640 peserta program Gerakan Seniman Masuk Sekolah, 200 penari Indonesia Permai, dan ribuan peserta dari 25 provinsi. Pawai menampilkan Ritus Nyawiji, Suara Anak Bangsa dan Rampak Nusantara serta variasi baris-berbaris.

Para peserta berpawai mulai dari gedung DPR/MPR RI, menuju jalan Asia Afrika dan kemudian berlanjut menuju kompleks kantor Kemendikbud dengan total perjalanan sejauh 3,2 kilometer. “Ini adalah kesempatan kita untuk mewujudkan kedigdayaan kita dalam kebudayaan. Masing-masing kelompok akan menampilkan kolaborasi dengan iringan musik tradisi,” ujar Denny Malik.

PKN juga menggelar pameran yang menampilkan kekayaan budaya dari 34 provinsi, di antaranya Wastra Nusantara, Warisan Budaya Takbenda, dan Warisan Dunia, yang dikemas dengan platform terbuka sehingga mampu mengakomodasi seluruh capaian artistik dari para peserta pameran.

Penyelenggaraan PKN melibatkan tiga ratus orang relawan yang berasal dari berbagai daerah. Mereka terdiri dari kaum muda usia 20 sampai dengan 28 tahun yang telah lulus seleksi yang diadakan oleh Direktorat Kebudayaan. Keterlibatan generasi muda ini diharapkan dapat menjadi penanda bagi lahirnya ide baru dan semangat dalam memajukan kebudayaan. Partisipasi masyarakat, khususnya para generasi muda sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Indonesia bahagia. (PPS, diolah dari berbagai sumber)