Sembilan Tari Bali Jadi Warisan Budaya Dunia Tak Benda

Halaman : 21
Edisi 46/Agustus 2020

Komite Warisan Budaya Tak Benda United Nations Educational, Scientific, dan Cultural Organization (UNESCO) di Windhoek, Namibia, pada sidang ke-10 yang dilaksanakan Selasa 2 Desember 2015 yang lalu, menetapkan tiga genre tari tradisi dari Provinsi Bali yang terdiri dari sembilan tari tradisional Bali ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Inskripsi tiga genre tari tradisi di Bali yang terdiri dari Sembilan tarian Bali ke dalam daftar Warisan Budaya Tak benda UNESCO merupakan bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting tarian tersebut. Diharapkan inskipsi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan nilai-nilai luhur tarian Bali, serta semangat untuk melestarikannya di masa mendatang.

Sembilan tari tradisional Bali tersebut adalah Rejang, Sanghyang Dadari, dan Baris Upacara yang digolongkan sebagai tarian sakral. Kemudian juga Topeng Sidhakarya, Sendratari Gambuh, dan Sendratari Wayang Wong yang digolongkan sebagai tarian semi-sakral; serta tari Legong Kraton, Joged Bumbung, dan Barong Ket “Kuntisraya”, yang digolongkan sebagai tarian hiburan (entertainment). 

  1. Rejang

Tari ini digunakan sebagai tari upacara keagamaan, dan diadakan di Pura Merajan atau Sangga. Dalam penataan tari atau koreografinya, tari ini tidak begitu terkait pada pedum karang seperti tarian lain pada umumnya. Sifat dari tari ini adalah fleksibel, dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi, khususnya pada upacara Pangider Buana para penari berputar mengelilingi sajen mengikuti pradaksina.

  1. Sanghyang Dedari

Tari ini merupakan salah satu jenis tari sanghyang. Sebuah tarian kerauhan yang ditarikan dalam kondisi kesurupan. Tari ini memiliki tujuan mistis dan tidak ditampilkan di depan umum, serta ditarikan degan tujuan untuk melindungi desa dari wabah penyakit, bencana alam, dan bencana lainnya. Sanghyang Dedari merupakan tari peninggalan kebudayaan pra-Hindu yang ditarikan oleh dua orang gadis yang dianggap masih suci.

 Uniknya dari tari ini adalah tidak diiringi oleh instrument musik, tetapi diiringi oleh beberapa orang dengan menyanyikan lagu persembahan kepada dewa.

  1. Baris Upacara

Tari ini seperti tari-tarian pada umumnya tidak memiliki lakon atau cerita. Pada umumnya tari ini digunakan atau dipertunjukkan untuk Dewa Yadnya. Biasanya pada acara upacara, tari Baris Upacara merupakan symbol Widyadara, Apsara sebagai pengawal Ida Berata sesuhunan turun ke dunia pada saat piodalan di pura bersangkutan. Tari ini juga berfungsi sebagai pemendak atau penyambut kedatangan para dewa.

  1. Topeng Sidhakarya

Tari ini biasanya ditarikan di akhir acara sebagai tanda bahwa tari sakral telah selesai. Dalam acara ritual keagamaan tradisi Hindu di Balli, tari ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan runtutan upacara sebagai pelengkap untuk mendapatkan keyakinan dalam mencapai kearah  kesempurnaan dan kesuksesan sebuah yadnya.

  1. Dramatari Gambuh

Tari ini memiliki fungsi Gambuh, yakni sebagai Trai Bebali atau Tari seremonial pengiring upacara di Pura. Dramatari Gambuh merupakan tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali. Tari ini merupakan bentuk total teater yang mimiliki unsur seni, drama, musik, dialog, dan tembang. Tari ini sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan upacara-upacara besar. Tarian Gambuh ditarikan pada waktu Ida Bharata turun ke paselang.

  1. Dramatari Wayang Wong

Tari ini merupakan perwujudan dari tari lakon Bali, perpaduan antara tari, drama dan musik penarinya diperankan oleh manusia. Tari ini merupakan cabang seni pertunjukan yang bersifat klasik dan satu kesatuan dari tari, tabuh, tembang, dan drama dengan menggunakan tapel, serta memakai cerita atau lakon yang diambil dari lakon Ramayana.

  1. Legong Kraton

Tari ini merupakan tari klasik yang melakonkan cerita-cerita zaman dahulu, seperti cerita Prabu Lasem, dengan diperankan oleh tiga orang gadis. Satu orang berperan sebagai Condong dan kedua lainnya berperan sebagai Legong.

  1. Joged Bumbung

Tari ini merupakan salah satu jenis tari Joged yang diiringi dengan gamelan bumbung bamboo. Penari joged pada awalnya menari sendiri yang disebut ngelembar. Setelah itu penari mencari pasangannya seorang laki-laki yaitu salah seorang lelaki yang menonton yang dihampiri si penari, dan laki-laki itu kemudian diajaknya menari bersama-sama atau diajaknya ngibing. Penari berganti-ganti pasangan yang dipilihnya. Tari Joged ini ada persamaannya dengan tari gandrung.

  1. Barong Ket

Tari ini merupakan perwujudan atau prabhawa Sanghyang Tri Murti. Warna topeng atau punggelan berbagai jenis barong yang berwarna merah adalah simbol Dewa Brahma, warna hitam merupakan wujud Dewa Wisnu, sedangkan yang berwarna putih adalah perwujudan Dewa Iswara. Sanghyang Tri Murti yang disimbolkan dengan berbagai jenis barong yang dilawangkan dari satu pintu ke pintu yang lain selama 35 hari diyakini dapat melindungi umat manusia, khususnya umat Hindu dari kekuatan merusak yang disebabkan oleh Sanghyang Kala Tiga Wisesa sehingga selamat. Perwajahan Barong pada umumnya merupakan wajah manusia dengan berbagai warna berbeda sebagai simbol tertentu, sedangkan barong ket lebih menyerupai hewan.

 Dengan inskripsi sembilan tari tradisi Bali tersebut, maka Indonesia telah memiliki tujuh elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Enam elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012). Serta Satu program Pendidikan dan Pelatihan tentang Batik (2009).

Makna Tari

Tari dalam kehidupan masyarakat Bali bukan sekedar sebagai hiburan, tetapi memiliki arti sakral dan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Ada tiga genre tari dalam kebudayaan Bali yang tersebar di 9 kabupaten/kota Provinsi Bali meliputi Kabupaten Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Kota Denpasar. Tiga genre tarian ini berlaku di semua wilayah Bali, dengan mengikuti prinsip-prinsip berdasarkan desa (tempat), Kala (waktu), dan patra (acara). Tari tradisional Bali ini dilakukan oleh penari baik laki-laki dan perempuan yang mengenakan kostum tradisional dengan warna dan aksesoris berwarna cerah dengan garis emas serta motif bunga dan fauna. Tari Bali terinspirasi oleh alam dan melambangkan tradisi tertentu, kebiasaan dan nilai-nilai agama. Dengan gerakan yang dinamis, dan berbagai ekspresi wajah dengan gerakan mata mengungkapkan kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, ketakutan dan cinta – semua disertai dengan musik gamelan.

Penari selain harus terampil secara teknis, juga harus memiliki kerendahan hati, disiplin dan terutama adalah taksu (kharisma) yaitu energi spiritual khusus yang menghidupkan tarian. Dalam masyarakat Bali, tarian terutama ditransmisikan secara informal kepada anak-anak sejak usia dini, dalam banjar (kelompok adat).

Pelatihan dimulai dengan gerakan tari dasar dan posisi, kemudian berkembang menjadi tarian yang lebih rumit. Sesi berlanjut sampai siswa telah hafal urutan gerakan. Tarian tradisional Bali memberikan rasa identitas budaya yang kuat didasarkan pada pemahaman bahwa mereka menjaga warisan budaya nenek moyang mereka. (*)