Wayang: Aset Budaya Nasional Sebagai Refleksi Kehidupan dengan Kandungan Nilai-nilai Falsafah Timur

Halaman : 26
Edisi 41/Desemberber - 2019

Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang. Wayang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Oleh karena itu wayang dianggap memiliki nilai sangat berharga dalam pembentukan karakter dan jati diri bangsa serta peradaban Indonesia.

Diperkirakan wayang mulai dikenal dan berkembang di Nusantara sejak 1500 SM sebagai bagian ritual. Nenek moyang kita percaya bahwa roh atau arwah orang yang meninggal tetap hidup dan bisa memberi pertolongan pada yang masih hidup. Karena itu roh-roh tersebut lantas dipuja dengan sebutan “hyang” atau “dahyang” yang diwujudkan dalam bentuk patung atau gambar. Dari sinilah asal usul pertunjukkan wayang, walaupun masih dalam bentuk yang sederhana.

Dalam perkembangannya, fungsi wayang sebagai media untuk menghormati arwah nenek moyang juga mengalami perkembangan. Saat periode HinduBuddha di Indonesia, cerita Ramayana dan Mahabarata berkembang pesat dengan penambahan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut yang berakulturasi dengan budaya masyarakat setempat.

Kemudian muncul pula cerita Panji yang berasal dari era Kerajaan Kadiri atau periode klasik di Jawa yang menceritakan tentang kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya yaitu Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana. Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara, termasuk di antaranya Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Filipina. Cerita dalam penampilan wayang tidak menutup kemungkinan untuk menampilkan kisah-kisah lain di luar cerita-cerita klasik.

Pada mula awal penyebaran agama Islam, wayang dijadikan media dakwah dengan penambahan tokoh-tokoh, pengembangan cerita, termasuk penyesuaian jalan cerita sehingga tidak bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, pada era yang lebih modern, wayang lantas digunakan sebagai media propaganda politik.

Seiring perkembangan zaman, wayang tetap bertahan hidup dan terus mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh agama, serta nilai-nilai budaya yang masuk dan berkembang di Indonesia. Proses akulturasi ini berlangsung sejak lama sehingga seni wayang memiliki daya tahan dan daya kembang tinggi.

Peran Dalang dalam Pewayangan

Dalam setiap pertunjukkan, wayang sebagai seni budaya selalu menampilkan kemampuan sebagai tontonan, tatanan dan tuntunan. Bisa jadi, ini karena selama berabad-abad wayang telah menjadi simbol kehidupan manusia (wewanyangane ngaurip), kisah manusia dari lahir sampai mati.

Sebuah seni pertunjukan wayang biasanya didukung oleh beberapa pendukung pertunjukan. Dalang ialah aktor utama dalam pertunjukan wayang. Dalang berperan sebagai sutradara, pemimpin jalannya pertunjukan, sekaligus memainkan seluruh gerak peraga tokoh wayang yang ditampilkan.

Selama pertunjukan dalang dibantu oleh Juru Kawih yang berperan sebagai vokalis untuk mengiringi pertunjukan wayang. Selain itu, dalang secara khusus dibantu oleh seorang asisten yang bernama Condoli, ia bertugas sebagai pembantu dalam membawa dan mengambil wayang yang dibutuhkan dalang dan menyimpannya sehingga perubahan tokoh yang dimainkan dalam setiap adegan berjalan lancar. Pertunjukan wayang juga diiringi oleh irama musik gamelan yang terdiri dari seperangkat alat musik antara lain: rebab, gendang, saron, bonang, ketuk gambang, penerus, jengglong, dan goong. Seni pertunjukan wayang diawali oleh narasi dalang mengenai gambaran awal atau tema yang akan dibawakan dalam pertunjukan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan dialog antara tokoh-tokoh wayang yang dibawakan oleh seorang dalang.

Hari Wayang Nasional

Wayang merupakan seni edipeniadiluhung, artinya seni yang selain indah juga mengandung nilai-nilai keutamaan hidup. Inilah yang membuat UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003, dan kemudian masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dengan judul The Wayang puppet theater tertanggal 4 November 2008.

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018, tertanggal 17 Desember 2018, Pemerintah telah menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional (HWN).

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid mengatakan Presiden Joko Widodo langsung menandatangani Keputusan Presiden tentang penetapan Hari Wayang Nasional di hadapan para perwakilan budayawan dan seniman di Istana Merdeka.
Hilmar menjelaskan, penetapan Hari Wayang Nasional berasal dari usulan masyarakat, ekosistem komunitas pewayangan Indonesia melalui Senawangi (Sekretariat Nasional Wayang Indonesia) yang kemudian dihantarkan oleh Kemendikbud, Kementerian PMK dan Setneg.
Wayang adalah wewayanganing ngaurip, artinya wayang adalah refleksi kehidupan. Nilai-nilai intangible wayang seperti memayu-hayu bawana (membuat tatanan dunia yang damai), jiwa ksatria, budi luhur, kesempurnaan hidup, harmoni adalah falsafah Timur yang bisa dikaji untuk memperkaya falsafah Barat.

Keinginan agar pemerintah segera menetapkan sebuah momentum agar masyarakat pewayangan bisa memperingati hari wayang sudah lama diwacanakan. Penetapan Hari Wayang Nasional adalah momentum puncak kesadaran, persatuan, kecintaan masyarakat wayang Indonesia dalam melestarikan, mengembangkan dan mengkaji wayang dalam sumbangsihnya untuk mewujudkan kebudayaan nasional yang dinamis dan modern. Penetapan Hari Wayang Nasional ini diharapkan menjadi pemicu masyarakat pewayangan untuk meningkatkan apresiasi sekaligus menjadi sarana untuk pembentukan jati diri dan karakter bangsa.

Penyebaran Wayang

Tidak kurang dari 100 jenis wayang tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Wayang kulit Purwa berkembang pesat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Wayang golek Sunda berkembang di Jawa Barat, wayang kulit Parwa di Bali. Selain itu wayang juga berkembang di Nusa Tenggara Barat dengan sebutan wayang Sasak, lalu ada Wayang Banjar di Kalimantan Selatan, Wayang Palembang di Sumatera Selatan.

Tercatat 60 jenis wayang dalam data WBTb Indonesia antara lain, Wayang Garing, Wayang Beber Kyai Remeng, Wayang Beber Pacitan, Wayang Kulit Betawi, Wayang Suket, Wayang Thengul, Wayang Wong Mataraman, Wayang Wong Sriwedari, Dramatari Wayang Wong, Wayang Sampir, Wayang Catur, Wayang Pantun, Wayang golek Cepak Indramayu, Wayang Golek Lenong betawi, Wayang Topeng Tengger, Wayang Gung, Wayang Menak Sasak, Wayang Ajen, Wayang Ceplak, Wayang Kulit Majalengka, Wayang Landung, Wayang Parwa, Wayang Sapuh Leger, Wayang Wong Parwa, Wayang Kulit Sekar Kedaton, Wayang Mbah Gandrung, Wayang Rai Wong, Wayang Wong Topeng, Wayang Kancil, Wayang Orang Ngesti Pandowo, Wayang Potehi, Wayang Obrol, Wayang Krucil, Wayang Timplong, Wayang Topeng Malang, Wayang Golek Lebak, Wayang Golek Blora, Wayang Apem, Wayang Gandrung, Wayang Kulit Banjar, dan Wayang Sukadana. (RYK)

 

Sumber: Undung Wiyono, Direktorat Kesenian dan Subdit Warisan Budaya Takbenda Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya