Anak Garuda (2020): Berjuang Bersama dalam Perbedaan untuk Menggapai Mimpi

Halaman : 32
Edisi 63/November 2022

Anak Garuda merupakan film yang mengangkat kisah inspirasi Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), yaitu sekolah gratis yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak yatim piatu dan kurang mampu di sekitar Kota Malang, Jawa Timur. Disutradarai oleh Faozan Rizal yang telah sukses menyutradarai film Habibie dan Ainun (2012), film ini menceritakan perjuangan yang dilalui tujuh Anak Garuda hingga dapat mengejar impian mereka untuk pergi ke Eropa.

FILM yang naskahnya ditulis Alim Sudio dan berdurasi selama 129 menit ini telah dirilis pada tanggal 16 Januari 2020. Anak Garuda menampilkan para bintang muda yang memerankan tujuh tokoh nyata, yaitu Rebecca Klopper sebagai Dilla, Tissa Biani Azzahra sebagai Sayyida, Clairine Clay sebagai Olfa, Ajil Ditto sebagai Robet, Rania Putrisari sebagai Sheren, Violla Georgie sebagai Yohana, dan Geraldy Kreckhoff sebagai Wayan. Selain itu, hadir pula Kiki Narendra memerankan tokoh Julianto Eka Putra atau yang dikenal dengan sebutan “Koh Jul”, dan Krisjiana Baharuddin sebagai Rocky.

Cerita Anak Garuda berawal saat Julianto Eka Putra (Koh Jul) mengajak tujuh anak (Sheren, Olfa, Wayan, Dila, Sayidah, Yohana, dan Robet) dengan latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda menjadi satu tim untuk mengelola operasional sekolah dan unit-unit bisnis. Akan tetapi, menyatukan mereka bukanlah persoalan sederhana.

Pertengkaran dan keributan terjadi silih berganti, mulai dari sekedar salah paham hingga rasa iri. Ditambah lagi hadirnya Rocky yang menimbulkan bibit-bibit cinta terpendam hingga rasa cemburu diantara mereka. Hal ini membuat potensi perpecahan dan hubungan mereka semakin memanas. Satu-satunya orang yang bisa merekatkan mereka kembali adalah figur Koh Jul. Namun Koh Jul tidak mau membuat tujuh Anak Garuda tersebut menjadi bergantung kepadanya.

Akhirnya Koh Jul harus membenturkan kenyataan paling pahit kepada mereka, yaitu dengan melepas mereka berangkat ke Eropa tanpa didampingi. Di Eropa, semua yang ditakutkan menjadi kenyataan. Pertengkaran dan keributan meledak, perpecahan di depan mata. Mereka harus bersama-sama membangun kembali fondasi kebersamaan yang sebelumnya dibangun Koh Jul, sambil menjalankan tugas belajar mereka di Eropa. Selama di sana, mereka belajar mengelola konflik yang terjadi hingga menciptakan keharmonisan kembali.

Film yang mengangkat kisah nyata dalam sekolah SPI ini banyak mengandung nilai moral kehidupan. Julianto Eka Putra, pendiri sekolah SPI yang juga menjadi produser film ini bersama Verdi Solaiman mengajak masyarakat untuk dapat mengambil nilai-nilai yang bisa dipetik dari film Anak Garuda.

Beberapa nilai moral tersebut adalah berjuang pantang menyerah, saling menghormati, dan bekerja sama dalam perbedaan demi mencapai kemajuan bersama. Film yang sarat dengan nilai-nilai perbedaan ini juga berisi pesan bagaimana mendidik anak-anak muda Indonesia dengan cara baru yang memberdayakan mereka serta membuat mereka menjadi pejuang gigih.

Film ini dibuat dengan mengambil gambar di Kota Malang, Jawa Timur, dan beberapa kota di Eropa sesuai kisah aslinya. Band ternama Indonesia, Cokelat, turut andil di dalamnya dengan membawakan lagu berjudul “Anak Garuda” yang merupakan lagu sekolah SPI. Anak Garuda menjadi film perdana yang diproduksi oleh Butterfly Pictures, rumah produksi yang dikelola langsung para murid dan alumnus sekolah SPI. (PRM/dari berbagai sumber)