Bebas, Film Adaptasi dengan Cita Rasa Lokal

Halaman : 32
Edisi 46/Agustus 2020

Nostalgia seringkali diangkat menjadi tema film yang menarik untuk ditonton. Terkadang manusia ingin sejenak melupakan masa kini dan beban-beban yang sedang dipikulnya, tanpa memikirkan masa depan, untuk kemudian rehat dan mengenang masa lalu.

Film Bebas yang mengusung tema nostalgia masa SMA di tahun 1990-an pun menjadi alternatif tontonan yang menghibur dari industri perfilman Indonesia. Meski ceritanya diadaptasi dari film Korea Selatan berjudul Sunny, Bebas sukses menampilkan film yang suasananya sarat dengan cita rasa lokal, khas Indonesia. Alurnya yang maju mundur pun tidak membingungkan penonton karena suasana yang ditampilkan dalam film memperlihatkan perbedaan zaman, yaitu tahun 1996 dan tahun 2019.

Film Bebas mengisahkan persahabatan enam anak SMA di tahun 90-an, yang terpisah selama 23 tahun. Geng Bebas, begitu nama kelompok mereka, terdiri dari Kris, Vina, Gina, Jessica, Suci, dan Jojo (satu-satunya lelaki). Keenam anak dengan karakter yang berbeda-beda itu bersekolah di sebuah SMA di Jakarta.

Film diawali dengan adegan Vina yang sudah menjadi ibu rumah tangga, tengah membantu suaminya menyiapkan keperluan untuk perjalanan dinas sang suami. Kehidupan Vina tampak sempurna. Ia cantik, memiliki suami tampan yang juga pebisnis sukses, dikaruniai anak perempuan cantik yang sudah SMA, dan sangat berkecukupan secara finansial.

Namun ia menyadari ada hal yang hilang dari kehidupannya setelah ia bertemu kembali dengan Kris setelah 23 tahun terpisah. Kris yang sedang berjuang melawan penyakit, meminta Vina mencari tahu keberadaan keempat sahabat mereka yang lain. Vina pun berusaha memenuhi keinginan Kris dan memulai pencarian dengan info sekadarnya. Perjalanan Vina mencari jejak sahabat-sahabatnya memanggil semua kenangan akan kisah persahabatan Geng Bebas saat SMA.

Saat alur berubah mundur karena kenangan Vina, dan film memasuki zaman 90-an, penonton pun disuguhkan dengan segala hal yang ikonik di Indonesia pada era itu. Sebut saja gaya berpakaian anak sekolah saat itu, mulai dari gaya rambut hingga gaya menggulung lengan kemeja seragam sekolah. Tidak ketinggalan, budaya pop 90-an juga ikut mewarnai suasana, seperti penggunaan walkman, siaran radio yang menerima pesanan lagu dan kiriman pesan dari pendengarnya, hingga lagu-lagu pop yang hits saat itu.

Musik memang salah satu hal yang tak bisa lepas dari sebuah penggarapan film, dan itu disadari oleh Riri Riza, Gina S. Noer, dan Mira Lesmana  dalam menggarap film Bebas. Lagu-lagu yang ditampilkan dalam film ini sukses membuat penonton ikut bernyanyi dan tenggelam dalam nostalgia ke masa itu. Siapa yang tidak tahu lagu Bebas yang dipopulerkan rapper Iwa K?

Lagu ini pula yang menginspirasi Vina dkk. dalam memberikan nama untuk geng mereka. Selain itu muncul juga lagu Dewa 19 yang berjudul “Cukup Siti Nurbaya”, yang menjadi latar saat Geng Bebas berlatih koreografi. Ada juga lagu “Kujelang Hari” dari Denada, dan “Sendiri” dari mendiang Chrisye yang mengalun syahdu nan romantis bersamaan dengan munculnya sosok Jaka.

Permasalahan sosial yang ditampilkan pun sangat khas era 90-an, antara lain persaingan antargeng, tawuran pelajar, hingga perkembangan sosial politik di mana mahasiswa sedang gencar mengkritisi pemerintahan.

Saat alur film kembali maju ke tahun 2019, Geng Bebas pun dihadapkan pada permasalahan yang berbeda, sesuai dengan usia dan zamannya. Kris yang sakit, Vina yang menjadi istri penurut dan ibu yang sabar, Gina yang hidup susah karena harus menanggung utang ibunya yang bangkrut, Jessica yang bekerja sebagai sales marketing namun sulit mencapai target perusahaan, Jojo yang memiliki pacar centil dengan usia jauh berbeda, dan Suci yang sulit dilacak keberadaannya.

Bergenre drama komedi. Itulah kesan yang didapat setelah menonton film ini. Penonton disuguhi dengan drama permasalahan anak SMA di tahun 1996, seperti suka dan duka sebuah persahabatan, juga tentang perpisahan. Pun begitu saat dihadapkan dengan suasana terkini di tahun 2019. Unsur komedi dan humor tetap kental. Penonton diajak tertawa lepas dan bebas saat lelucon keluar dari dialog para tokoh, maupun dari kelakuan lucu para pemainnya.

Salah satu tokoh kunci film ini adalah karakter Jojo, satu-satunya anak lelaki dalam Geng Bebas. Jojo digambarkan sebagai laki-laki dengan gaya bicara dan karakter yang gemulai. Gayanya kerap mengundang tawa. Misalnya saat Jojo remaja beradu mulut dengan seorang perempuan anggota geng Baby Girls. Atau saat Jojo terpaksa jaim (jaga imej) di hadapan tunangannya yang tiba-tiba muncul padahal ia sedang kedatangan Vina dan Jessica di kantor. Untuk merahasiakan percakapan mereka bertiga dari tunangan Jojo, akhirnya mereka menggunakan bahasa “G” yang populer digunakan anak-anak remaja di tahun 90-an. Tunangan Jojo yang berbeda generasi itu pun mengira mereka berbicara dalam bahasa Rusia.

Padahal karakter Jojo adalah sosok yang tidak ada dalam film Korea Selatan yang diadaptasi Bebas, yaitu Sunny. Di film Sunny, semua anggota gengnya adalah perempuan. Inilah salah satu hal yang membedakan Bebas dengan Sunny. Pembangunan karakter yang kuat tidak hanya berhasil pada sosok Jojo, namun juga pada sosok Kris yang tomboi dan jago bela diri, Vina yang penurut, Gina yang mandiri, Jessica yang ceplas-ceplos, dan Suci yang cantik dan anggun. Baik pemeran remaja maupun pemeran dewasa berhasil memainkan perannya dengan apik.

Terlepas dari segala keunggulan film Bebas, film ini juga memiliki titik kelemahan. Misalnya saat adegan Jessica dewasa bertemu dengan Kris. Adegan itu terkesan jumping. Tiba-tiba digambarkan Jessica sudah berpelukan dengan Kris di rumah sakit sambil menangis karena Kris sedang sakit serius. Padahal adegan sebelumnya masih dalam suasana ceria dari pertemuan Vina dan Jessica. Perpindahan shoot yang terlalu cepat jadi mengganggu suasana reuni Jessica dan Kris yang seharusnya tampak mengharukan setelah berpisah 23 tahun. Widi Mulia yang berperan sebagai Gina dewasa juga dirasa kurang greget.

Bagaimanapun, kekurangan-kekurangan tersebut terobati dengan kepuasan bernostalgia ke tahun 90-an. Perpaduan yang pas antara drama dan komedi, serta bumbu-bumbu percintaan remaja dan masalah keluarga, menjadikan film ini layak ditonton. Sebuah film adaptasi dengan cita rasa lokal. (DES)