Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 Tentukan Arah Pemajuan Kebudayaan

Halaman : 6
Edisi 40/Oktober - 2019

Melihat tantangan peradaban dunia yang semakin kompleks di era saat ini, maka ketahanan budaya menjadi hal yang seutuhnya dalam menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilainilai budayanya. Setelah ditetapkannya Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, upaya dan langkah strategis pemerintah semakin jelas dan terarah melalui strategi kebudayaan yang disusun sebagai landasan pembangunan nasional saat Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018.

 

UPAYA PELINDUNGAN, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan serta langkah-langkah strategis pemajuan kebudayaan semakin konkret. Dalam pemajuan kebudayaan nasional tersebut perlu melibatkan generasi muda sebagai penerus bangsa sehingga arah pemajuan kebudayan semakin berkesinambungan di masa mendatang. Dengan melibatkan generasi emas Indonesia tersebut maka pendidikan menjadi sangat strategis dalam mewujudkan bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan. Pendidikan merupakan ujung tombak kebudayaan nasional sebab pendidikan sejatinya merupakan upaya pembentukan watak sesuai dengan citacita keberadaan bangsa Indonesia. Melalui instrumen pendidikanlah, kebudayaan nasional dapat dimajukan secara meluas dan merata ke seluruh komponen bangsa, tutur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa waktu lalu. Senada hal itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid mengungkapkan, KKI 2018 membuka ruang bagi para peserta untuk menginisiasi aksi-aksi kebudayaan yang baru serta mendorong keterlibatan generasi muda di serangkaian kegiatannya. Hal itu, lanjut dia, dilakukan karena agenda pemajuan kebudayaan ke depan ada di tangan anak-anak muda Indonesia.

 

Bukan hanya karena para pelaku budaya yang senior ini berkurang jumlahnya, tapi juga kita hidup di suatu masa transisi, di mana teknologi digital mengambil peran yang besar dalam kehidupan sosial kita, ujar Hilmar beberapa waktu lalu. Selain menjadi tempat lahirnya strategi kebudayaan Indonesia sebagai landasan pembangunan nasional 20 tahun ke depan, penyelenggaraan KKI 2018 juga merupakan momen istimewa karena bertepatan dengan 100 tahun pennyelenggaraan kongres kebudayaan di Indonesia. Kongres kebudayaan yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1918 di Surakarta telah menjadi forum strategis terbesar para pemangku kepentingan di bidang kebudayaan. Strategi kebudayaan disusun berdasarkan pokok pikiran kebudayaan daerah (PPKD) dari berbagai wilayah di tanah air. Hingga pelaksanaan KKI 2018 telah terkumpul 302 PPKD kabupaten/kota dan 31 PPKD provinsi. Proses penyusunan strategi kebudayaan ini telah melibatkan sekitar 1.500 orang dari berbagai pemangku kepentingan kebudayaan di seluruh Indonesia. Strategi kebudayaan bukan kesimpulan dari para ahli atau para pemikir cemerlang tapi buah dari kecerdasan kolektif. Kali ini, kita tidak memulainya dari pemaparan makalah, tetapi dari bawah menghimpun pandangan, pendapat, informasi, masalah, dan usulan solusi untuk diramu menjadi strategi kebudayaan yang solid, terang Hilmar. KKI 2018 mejadi salah satu hajat besar di penghujung tahun ini, bukan hanya bagi Kemendikbud, melainkan juga bagi budayawan, seniman, dan seluruh masyarakat Indonesia. Terlebih lagi dokumen strategi kebudayaan dapat diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo saat puncak acara KKI 2018 pada 9 Desember 2018 di Kantor Kemendikbud. Dokumen strategi kebudayaan tersebut diserahkan oleh perwakilan tim perumus yaitu I Made Bandem dan Nungki Kusumastuti.

 

Animo masyarakat, khususnya generasi muda, pun sangat besar dalam memeriahkan KKI 2018 kali ini. Hal itu terlihat dari jumlah pendaftar relawan KKI 2018. Ribuan pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang telah mendaftar, sementara yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut hanya 100 orang. Hingga akhir penyelenggaraan KKI 2018 tercatat ada sekitar 7.000 peserta yang hadir berpartisipasi dan memeriahkan hajatan besar di bidang kebudayaan itu. Acara yang digelar pada 5 hingga 9 Desember 2018 ini menyajikan berbagai macam kegiatan yang bersifat terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Berbagai kegiatan itu di antaranya 4 forum pidato kebudayaan, 12 forum debat publik, 13 lokakarya dan kuliah umum pemajuan kebudayaan, pameran karya seni, pasar kuliner khas Indonesia, konser musik 18 band, 8 pertunjukan seni tradisi, pemutaran film, diskusi dan gelar wicara inspirasi kerja budaya, serta pawai budaya. (ABG)