Ini Langkah Menyikapi Tragedi pada Anak oleh Orangtua dan Guru

Halaman : 20
Edisi 56/Oktober 2021

Baru-baru ini di berbagai media massa, kita akan menjumpai pemberitaan tentang aksi teror yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab itu memang telah mencoreng citra bangsa Indonesia yang dikenal dengan keramahan, kesantunan, kerukunan, toleransi, dan nilai budi pekerti lain dari masyarakatnya yang beragam.

Indonesia Telah melewati banyak tragedi dan masalah sejak zaman penjajahan maupun setelah kemerdekaan. Namun, berbagai tragedi dan masalah tersebut dapat diatasi oleh masyarakat Indonesia dengan tegar serta semangat gotong royong dan saling menjaga kesatuan dan persatuan. Sikap inilah yang perlu ditumbuhkan pada anak oleh orangtua dan gurunya guna menciptakan Indonesia yang damai dan sejahtera.

Orangtua sebagai pendidik pertama dan utama bagi seorang anak sangat perlu memahami bagaimana cara menyikapi sebuah aksi teror atau tindakan merugikan bagi orang banyak lainnya. Pertama, orangtua perlu mengetahui seberapa jauh sang anak paham tentang aksi teror tersebut. Hal itu dapat dijadikan bahan diskusi dengan sang anak dengan berdasarkan pada fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi agar anak terhindar dari isu-isu spekulasi yang beredar.

Baca Juga: Butuh Peran Aktif Masyarakat Wujudkan Ketertiban dan Keamanan Bersama

Kedua, orangtua perlu mengidentifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan karena pada dasarnya karakter setiap anak itu unik dalam menanggapi sebuah permasalahan yang terjadi. Jelaskan pula kepada anak bahwa aksi teror sebenarnya jarang terjadi, namun tetap harus waspada di setiap kondisi apapun. Sebisa mungkin orangtua menghindarkan anak dari paparan di televisi atau media social yang sering menampilkan gambar dan atau adegan mengerikan bagi anak, terutama bagi anak di bawah usia 12 tahun.

Ajak anak untuk mengapresiasi kinerja aparat keamanan (Polisi/Tentara Nasional Indonesia), petugas kesehatan, dan pihak lainnya yang telah melayani dan membantu saat tragedi terjadi. Diskusikan kepada anak tentang sisi kesigapan dan keberanian para petugas mengungkap kejahatan

Selanjutnya, orangtua juga perlu membantu anak untuk mengungkapkan perasaannya terhadap tragedi yang terjadi tersebut. Apabila mereka merasa marah maka arahkan kemarahan mereka pada sasaran yang tepat yaitu pelaku kejahatannya dan sebisa mungkin menghindarkan prasangka anak pada identitas golongan, agama, suku, dan ras yang didasarkan pada prasangka.

Setelah itu, orangtua perlu mengajak anaknya untuk menjalani kegiatan keluarga secara normal agar memberikan rasa nyaman bagi anak serta tidak tunduk pada tujuan pelaku teror yang ingin mengganggu kehidupan sehari-hari kita. Orangtua pun harus menyadari bahwa kebersamaan dan komunikasi yang baik dengan anak sangat penting untuk dilakukan karena hal itu merupakan suatu bentuk dukungan bagi anak.

Baca Juga: Tumbuhkan Nilai-nilai Pancasila Pada Anak, Tripusat Pendidikan Harus Bersinergi

Peran Penting Guru

Selain orangtua, siswa akan mencari informasi dan pemahaman kepada guru tentang apa yang ingin dia ketahui termasuk tragedi aksi teror tersebut. Dalam hal ini, guru harus menyediakan waktu berbicara dengan muridnya dan membahas secara singkat tentang apa yang terjadi saat itu, bicarakanlah bersama mereka tentang fakta-fakta yang telah terverifikasi agar tidak membuka ruang spekulasi, rumor, dan isu atas tragedi tersebut.

Guru juga harus memberi kesempatan kepada siswanya untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang tragedi yang terjadi. Saat inilah, guru harus menyatakan dengan jelas rasa duka cita terhadap para korban dan keluarganya yang ditinggalkan. Hal ini juga merupakan salah satu cara menumbuhkan rasa empati pada siswa.

Beberapa siswa mungkin akan marah atas tragedi yang terjadi, guru harus bisa mengarahkan kemarahan mereka pada sasaran yang tepat yaitu pelaku kejahatannya bukan pada identitas golongan tertentu yang didasarkan pada spekulasi. Selain itu, guru juga perlu mengajak siswa berpikir positif atas tragedi yang terjadi karena masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan dahulu selalu tegar dan bergotong royong serta saling menjaga dan semangat persatuan dan kesatuan dalam menyikapi sebuah tragedi.

Baca Juga: Praktik Baik Pendidikan Karakter dari Sekolah, Keluarga, Hingga Masyarakat

Setelah itu, guru harus mengajak siswasiswinya menjalani rutinitas belajar mengajar secara normal kembali di sekolah. Sekolah pun perlu mendukung dan memastikan bahwa proses pembelajaran di sekolah tetap berjalan kondusif dan aman guna kenyamanan para siswanya. (ABG)