Tumbuhkan Nilai-nilai Pancasila Pada Anak, Tripusat Pendidikan Harus Bersinergi

Halaman : 6
Edisi 41/Desember - 2019

Sebuah survey pada 2010 hingga 2011 lalu oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) terhadap 100 sekolah baik negeri maupun swasta, menghasilkan sebanyak 25 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila sudah tidak relevan lagi. Selain itu, dari survey itu sebanyak 48,9 persen siswa bersedia terlibat aksi kekerasan yang terkait agama dan moral.Tentu hal ini perlu menjadi perhatian, bagaimana peran tripusat pendidikan dalam mewujudkan revolusi karakter bangsa pada anak-anak?

Undang undang sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan sebagai suatu proses pembudayaan serta pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat sudah seharusnya mampu menumbuhkan karakter siswa yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila sehingga tidak ada lagi tindakan-tindakan merugikan di lingkungan sekolah dan sekitarnya.

Sekolah sebagai rumah kedua siswa dalam mendapatkan pendidikan tidak dapat bekerja sendiri untuk mewujudkan revolusi karakter bangsa yang merupakan salah satu program Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut. Sekolah (kepala sekolah dan guru), keluarga (orangtua/wali murid), dan masyarakat (komite sekolah, organisasi profesi, dan lainnya) atau ketiganya yang lebih dikenal sebagai tripusat pendidikan harus bersinergi agar menjadi sumber kekuatan untuk memperbaiki kinerja dunia pendidikan dan kebudayaan.

“Tripusat pendidikan harus secara simultan menjadi lahan subur tempat persemaian nilai-nilai religius, kejujuran, kerja keras, gotong royong, dan seterusnya bagi para penerus kedaulatan dan kemajuan bangsa,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, beberapa waktu lalu saat Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018 di Jakarta.

Para guru harus memberikan pencerahan tentang sikap saling menghargai dalam keberagaman di ruang kelas dengan mengedepankan nilainilai Keindonesiaan. Sekolah yang mengedepankan kemajemukan bangsa merupakan tunas peradaban bagi lingkungan sekitarnya. “Jangan berikan ruang intoleran di sekolahsekolah. Jika guru mendapati gejala tersebut, maka sekolah harus segera mengambil langkah yang mendidik dan mencerahkan,” tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Lingkungan keluarga yang merupakan pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak juga memiliki peranan sangat penting dalam menumbuhkan nilai-nilai Pancasila pada anak. Peran strategis itu mempengaruhi watak, mental, dan karakater sang anak dalam memberikan pemahaman pada mereka bahwa Indonesia kaya akan keberagamannya.

Masyarakat juga memiliki peranan penting dalam menumbuhkan karakter anak Indonesia dengan urun tangan memfasilitasi para siswa mengikuti kegiatan-kegiatan positif di bidang keagamaan, kemanusiaan, kesenian, dan lainnya. Misalnya, para siswa diajak untuk terlibat bakti sosial di panti wreda atau panti asuhan, memberikan ruang bagi siswa yang memiliki minat di bidang seni serta budaya melalui pementasan, dan kegiatan positif lainnya. (ABG)